DANAU Lau Kawar di Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara menyuguhkan pemandangan indah. Air danau hijau dikelilingi pepohonan di sekilingnya membuat suasana asri begitu kentara. Tapi, di balik keelokannya tersimpan cerita misteri.
Dari Danau Lau Kawar mata Anda akan dimanjakan dengan pemandangan Gunung Sinabung. Di pinggir danau terdapat lahan yang biasa digunakan untuk berkemah.
BACA JUGA:10 Danau Vulkanik Terindah di Dunia, Tiga di Antaranya Ada di Indonesia!
Selain berkemah dari obyek wisata itu, pengunjung juga dapat melakukan aktivitas lain seperti panjat tebing, sekaligus pendakian ke puncak gunung Sinabung melewati hutan belantara, karena danau tersebut terletak tepat di kaki gunung Sinabung.
Terlepas dari pemandangannya yang cantik, berkembang beragam cerita misteri mulai dari terbentukknya danau itu sendiri. Beberapa versi terbentuknya danau ini yang pertama adalah terbentuk karena tangisan seorang ibu yang melihat anaknya Sinabung dan Sibayak yang terus berkelahi.
Cerita lain yang berkembang bahwa dulu ada seorang nenek yang tinggal di puncak gunung Sinabung, sementara anak dan cucunya tinggal di kaki gunung. Pada suatu ketika sang cucu berjalan untuk mengantarkan makanan kepada sang nenek, namun di tengah perjalanan ia merasa lapar dan memakan makanan yang seharusnya diberikan kepada sang nenek.
Mengetahui hal tersebut, sag nenek marah dan menampar wajah cucunya. Kemudian sang cucu menangis tanpa henti, hingga terbentuklah danau Lau Kawar ini.
BACA JUGA:4 Danau di Indonesia Menyimpan Misteri, Bikin Bulu Kuduk Merinding
Banyak orang yang percaya ketika mengunjungi area ini, terdapat beberapa pantangan yang tak harus selalu diperhatikan. Seperti tidak boleh berkata kasar, bersikap sopan dan tidak melakukan tindakan asusila, atau membuang pembalut wanita ke danau.
Cerita mistis lain juga berkembang ketika seorang wisatawan dan sekelompok temannya yang hendak menuju danau Lau Kawar diganggu oleh makhluk tak kasat mata.
Menurut pernyataan dari orang pintar di daerah tersebut, hal itu terjadi lantaran ada salah satu dari rombongan yang membuang putung rokok sembarangan. Rombongan ini dibekali air putih untuk melanjutkan perjalanannya.
Rombongan ini kemudian melakukan camping, namun karena kabut yang cukup pekat memaksa mereka untuk pindah ke penginapan. Selama bermalam di sana mereka terus diganggu oleh makhluk tak kasat mata ini, mulai dari penampakkan hingga terjadi kesurupan secara bergilir.
Terlepas dari cerita mistis yang ada, tindakan-tindakan seperti membuang putung rokok sembarangan terutama di alam terbuka memang tidak di benarkan. Wisatawan atau pengunjung diharuskan untuk majaga kebersihan serta tata krama.
(Salman Mardira)