“Jadi, struktur ruang kota itu adalah pengembangan pusat kegiatan yang didukung dengan jaringan pelayanan. Salah satu yang membuat daya tarik Kota Tua karena didukung akses publik yang ramah dan mudah. Sebab, esensi utama membangun kota itu adalah membangun manusianya," tandasnya.
Yayat menilai, kebijakan Gubernur Anies mengenai pembatasan penggunaan kendaraan pribadi, agar orang lebih menggunakan transportasi umum. Dengan demikian, kebijakan Kota Tua sebagai Kawasan Rendah Emisi (KRE) atau Low Emission Zone (LEZ) sudah tepat. Artinya, komposisi yang kita dorong di situ adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan memperbanyak fasilitas angkutan publik.
“Prinsipnya, saya datang ke Kota Tua menggunakan public transport. Jadi, Kota Tua ini dijadikan sebagai puncak baru. Ingat, kawasan ini sudah cocok. Tidak banyak aktivitas, seperti Thamrin-Sudirman atau daerah-daerah lain. Tinggal bagaimana desain yang kita buat,” ungkapnya.
Menurut Yayat, Kota Tua menjadi ruang yang memfasilitasi mobilitas dari wilayah Jabodetabek hingga kawasan sekitarnya menuju Kota Tua. Jadi, inilah destinasi yang menarik, karena wisata di Kota Tua gratis dan lebih memudahkan bagi orang untuk datang.
(Karina Asta Widara )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.