Pedestrianisasi ini menambah ruang publik eksisting yang sebelumnya telah terbangun di Plaza Fatahillah dan Promenade Kali Besar Selatan, selain menyatukan keseluruhannya sebagai ruang publik yang terintegrasi. Kemudian, Pemprov DKI Jakarta juga menata Stasiun Kota dan Halte Transjakarta, di samping membangun MRT tahap kedua yang rutenya Bundaran HI-Kota Tua. Semua itu agar kawasan Kota Tua semakin mudah dijangkau dengan transportasi publik.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Anies turut mengundang para investor untuk mengaktifkan aset-aset milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun private, sebagai contoh adaptive reuse pascarevitalisasi. Adaptive reuse mengacu kepada upaya penggunaan kembali aset, dengan menyesuaikan kondisi aset yang ada, dalam hal ini bangunan cagar budaya. Contohnya Tugu Batavia, Bank Indonesia, Cafe Batavia, dan lain-lain.
Memuliakan Pejalan Kaki
Revitalisasi kawasan Kota Tua yang kini terlihat lebih humanis mendapat apresiasi dari Yayat Supriatna, pengamat tata kota. “Kita harus mengapresiasi kerja Pak Anies, selama masa kepemimpinannya itu banyak melakukan revitalisasi terhadap kondisi kota,” ucapnya.
Yayat melihat revitalisasi kawasan Kota Tua dari dua aspek, yakni secara planologis dan sosiologis. Secara planologis, Gubernur Anies melakukan reformasi stuktur pelayanan publik, yakni menjadikan kawasan Kota Tua menjadi ruang pejalan kaki. Menurutnya, kalau warga masyarakat mau ke Kota Tua, ini adalah ruang para pejalan kaki dan di situ ada integrasi transportasinya.
"Selama ini, cara pandang kita mobil nomor satu, pejalan kaki di bawah. Nah, revitalisasi Kota Tua itu membalikkan paradigma itu. Jadi, bayangkan revitalisasi Kota Tua itu adalah membayangkan bagaimana memuliakan para pejalan kaki,” imbuhnya.
Kemudian, yang kedua, aspek sosiologis, yakni revitalisasi yang dilakukan adalah struktur untuk membangun kultur. Di kota itu, jelas Yayat, ada yang namanya struktur ruang kota, yaitu pusat-pusat kegiatan yang didukung dengan jaringan pelayanan.