Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Usai Revitalisasi, Kawasan Kota Tua Kian Ramah Pejalan Kaki dan Rendah Emisi

Yaomi Suhayatmi , Jurnalis-Rabu, 14 September 2022 |14:21 WIB
Usai Revitalisasi, Kawasan Kota Tua Kian Ramah Pejalan Kaki dan Rendah Emisi
Kawasan Kota Tua dinamakan Batavia sebagaimana masa lalu, namun konsepnya mencerminkan kota moderen masa depan. Foto: Pemprov DKI
A
A
A

JAKARTA- Selepas senja, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, cukup ramai. Warga yang datang ke sana berjalan kaki melewati trotoar dari arah Stasiun Kota, Selasa (13/9/2022). Sorotan lampu hias di sekitar jalur pedestrian semakin mempercantik arsitektur bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda.

Hari itu, Tri (38) bersama rekannya datang mengunjungi Kota Tua, karena penasaran ingin melihat langsung wajah kawasan yang baru direvitalisasi ini. Mereka menyempatkan waktu mengunjungi Kota Tua dari kantornya di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, sepulang kerja. Dari tempatnya bekerja, mereka menggunakan kereta Commuter Line menuju Stasiun Kota.

"Kawasan wisata Kota Tua yang juga merupakan ikon kota Jakarta kini terlihat lebih nyaman, ramah pejalan kaki, dan bebas polusi. Apalagi kalau datang pagi, segar udaranya. Mau wisata ke Kota Tua juga gratis dan hemat biaya transportasi. Kalau mau ke sini, tinggal naik commuter line, turun di Stasiun Kota," jelas Tri yang tinggal di Kramat Raya, Jakarta Pusat, kepada Okezone.

Kawasan Kota Tua setiap hari ramai dipadati pengunjung, setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan resmi membukanya kembali untuk umum usai direvitalisasi, Sabtu (10/9/2022).

Kawasan yang dipadati bangunan berusia lebih dari tiga abad ini dinamakan Batavia. Walau mencerminkan masa lalu yang bernilai sejarah, konsepnya mencerminkan kota modern masa depan. "Dalam proses revitalisasi, seluruh jalan yang sebelumnya dilewati kendaraan pribadi ber-BBM, disulap menjadi pedestrian untuk pejalan kaki dan pesepeda. Pasalnya, kawasan Kota Tua telah disiapkan untuk zona rendah emisi," ungkap Anies.

Sebelum pembukaan kembali kawasan ini, Gubernur Anies meninjau progres revitalisasi Kota Tua sebagai model Kota Masa Depan. Ia beserta jajaran Pemprov DKI Jakarta meninjau kesiapan infrastruktur, untuk menunjang kegiatan masa depan perkotaan di Kawasan Kota Tua. Rute peninjauan dimulai dari Jembatan Kota Intan, Kali Besar Utara, Kali Besar Selatan, Pintu Besar Utara, Plaza Transit BEOS, hingga ke Plaza Lada, pada Jumat(26/8/2022).

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Anies menyatakan, sebagai model Kota Masa Depan, revitalisasi Kota Tua dirancang untuk menghadirkan kawasan wisata yang memanusiakan pejalan kaki, berorientasi pada mobilitas yang aktif dan setara untuk semua, serta ramah lingkungan (emisi rendah). "Ke depan kita akan menyaksikan kawasan baru yang mewakili Jakarta masa depan. Mulai di tempat ini kita ingin melihat kawasan yang memprioritaskan pejalan kaki, naik kendaraan umum, tanpa kendaraan pribadi, sehingga memunculkan rasa kesetaraan," ujarnya.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut menegaskan, kawasan yang pernah menjadi pusat pemerintahan dan badan usaha kolonial Belanda ini akan menjadi lokasi yang bisa mencerminkan sila kelima Pancasila, yakni berlandaskan keadilan social, tanpa membedakan latar belakang apapun. Ini selaras konsep ruang ketiga di Jakarta sebagai ruang interaksi antarwarga, agar segala pengalaman dan cerita menjadi satu, yang menggambarkan realitas kehidupan urban secara global.

"Perasaan kesetaraan inilah kekuatan terobosan yang ada di kota ini, dan inilah masa depan. Di kawasan Kota Tua ada ruang publik seperti Taman Fatahillah. Lalu, di belakang itu ada salah satu stasiun paling lama (Jakarta Kota), usianya sekitar seratus tahun. Nanti kita juga akan melihat MRT punya stasiun di tempat ini. Insya Allah Jakarta akan terus-menerus mengalami modernisasi dalam mencerminkan kota global," jelasnya.

Gubernur Anies juga berpesan kepada seluruh lapisan masyarakat yang hadir pada pembukaan Festival Batavia Kota Tua tersebut, agar bisa merawat kawasan ini pada masa depan. Termasuk menjaga keaslian peninggalan sejarah kampung-kampung tua di sekitar Kota Tua.

"Harus diingat, di sini bukan hanya bangunan bersejarah. Di sini ada juga kampung-kampung tua dan ini jangan dihilangkan. Harus dirawat dikembangkan, karena itu bagian dari sejarah perjalanan bangsa kita," pungkasnya.

 Kawasan Kota Tua menjadi lokasi yang bisa mencerminkan sila kelima Pancasila, berlandaskan keadilan social, tanpa membedakan latar belakang apapun. Foto. Pemprov DKI Jakarta

Kota Tua Kawasan Rendah Emisi

Pemprov DKI Jakarta menerapkan kawasan rendah emisi di kawasan Kota Tua, dengan tujuan meningkatkan kualitas udara di sekitar lokasi serta mengurai kemacetan. Termasuk dalam menyiapkan fasilitas pejalan kaki seluas ± 29.000 m2, di antaranya Plaza Lada dan Kemukus, Plaza Transit BEOS, Promenade Kali Besar Utara, dan ruang pejalan kaki lain di Kawasan Kota Tua.

Pedestrianisasi ini menambah ruang publik eksisting yang sebelumnya telah terbangun di Plaza Fatahillah dan Promenade Kali Besar Selatan, selain menyatukan keseluruhannya sebagai ruang publik yang terintegrasi. Kemudian, Pemprov DKI Jakarta juga menata Stasiun Kota dan Halte Transjakarta, di samping membangun MRT tahap kedua yang rutenya Bundaran HI-Kota Tua. Semua itu agar kawasan Kota Tua semakin mudah dijangkau dengan transportasi publik.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Anies turut mengundang para investor untuk mengaktifkan aset-aset milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun private, sebagai contoh adaptive reuse pascarevitalisasi. Adaptive reuse mengacu kepada upaya penggunaan kembali aset, dengan menyesuaikan kondisi aset yang ada, dalam hal ini bangunan cagar budaya. Contohnya Tugu Batavia, Bank Indonesia, Cafe Batavia, dan lain-lain.

Memuliakan Pejalan Kaki

Revitalisasi kawasan Kota Tua yang kini terlihat lebih humanis mendapat apresiasi dari Yayat Supriatna, pengamat tata kota. “Kita harus mengapresiasi kerja Pak Anies, selama masa kepemimpinannya itu banyak melakukan revitalisasi terhadap kondisi kota,” ucapnya.

Yayat melihat revitalisasi kawasan Kota Tua dari dua aspek, yakni secara planologis dan sosiologis. Secara planologis, Gubernur Anies melakukan reformasi stuktur pelayanan publik, yakni menjadikan kawasan Kota Tua menjadi ruang pejalan kaki. Menurutnya, kalau warga masyarakat mau ke Kota Tua, ini adalah ruang para pejalan kaki dan di situ ada integrasi transportasinya.

"Selama ini, cara pandang kita mobil nomor satu, pejalan kaki di bawah. Nah, revitalisasi Kota Tua itu membalikkan paradigma itu. Jadi, bayangkan revitalisasi Kota Tua itu adalah membayangkan bagaimana memuliakan para pejalan kaki,” imbuhnya.

Kemudian, yang kedua, aspek sosiologis, yakni revitalisasi yang dilakukan adalah struktur untuk membangun kultur. Di kota itu, jelas Yayat, ada yang namanya struktur ruang kota, yaitu pusat-pusat kegiatan yang didukung dengan jaringan pelayanan.

“Jadi, struktur ruang kota itu adalah pengembangan pusat kegiatan yang didukung dengan jaringan pelayanan. Salah satu yang membuat daya tarik Kota Tua karena didukung akses publik yang ramah dan mudah. Sebab, esensi utama membangun kota itu adalah membangun manusianya," tandasnya.

Yayat menilai, kebijakan Gubernur Anies mengenai pembatasan penggunaan kendaraan pribadi, agar orang lebih menggunakan transportasi umum. Dengan demikian, kebijakan Kota Tua sebagai Kawasan Rendah Emisi (KRE) atau Low Emission Zone (LEZ) sudah tepat. Artinya, komposisi yang kita dorong di situ adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan memperbanyak fasilitas angkutan publik.

“Prinsipnya, saya datang ke Kota Tua menggunakan public transport. Jadi, Kota Tua ini dijadikan sebagai puncak baru. Ingat, kawasan ini sudah cocok. Tidak banyak aktivitas, seperti Thamrin-Sudirman atau daerah-daerah lain. Tinggal bagaimana desain yang kita buat,” ungkapnya.

Menurut Yayat, Kota Tua menjadi ruang yang memfasilitasi mobilitas dari wilayah Jabodetabek hingga kawasan sekitarnya menuju Kota Tua. Jadi, inilah destinasi yang menarik, karena wisata di Kota Tua gratis dan lebih memudahkan bagi orang untuk datang.

(Karina Asta Widara )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement