Keputusan tersebut diambil karena sudah turun temurun dikenakan di samping juga karena sesuai arahan sunan Kalijogo. Baju tersebut sampai sekarang dikenal dengan nama baju Surjan. Demikian juga dengan tradisi, keduanya memang memiliki kemiripan.
"Di Jogja dan Solo sama-sama ada Garebeg. Dan untuk suran (suro) sama-sama ada tradisi Topo Bisu Mubeng Beteng. Hanya saja di Solo ditambahi dengan mengarak kerbau bule, Kyai Slamet," katanya.
Kedua kerajaan ini juga memiliki kesamaan dalam Labuhan meskipun tepatnya berbeda. Jika keraton Solo menyelenggarakan labuhan di Gunung Lawu dan Pantai Glagah, namun untuk Keraton Yogyakarta dilaksanakan di Gunung Merapi dan Pantai Parangkusumo.
Beberapa hal lain yang membedakan diantaranya adalah untuk jarik atau kain yang biasa digunakan para abdi dalem sebenarnya memiliki kemiripan dalam sisi corak. Namun untuk Solo lebih dominan warna Cokelat dan untuk Jogja lebih didominasi warna Putih.
"Nah untuk wilayah Gunungkidul yaitu Kapanewon (kecamatan) Semin, Rongkop dan Girisubo masih terpengaruh Solo karena letaknya dekat dengan Solo. Sementara sebagian Piyaman Kecamatan Wonosari, Panggang, Ngawen dan nglipar dekat dengan Solo tetapi kental dengan budaya Ngayogyakarta Hadiningrat," katanya.
(Kurniawati Hasjanah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.