Dua hari setelah perjanjian Giyanti atau tanggal 15 Februari 1755, terjadilah pertemuan antara Sultan Yogyakarta dengan Sunan Surakata di Lebak Jatisari. Pertemuan tersebut membahas peletakan dasar kebudayaan bagi masing-masing kerajaan. Dalam peristiwa yang terkenal dengan perjanjian Giyanti tersebut membahas tata cara berpakaian, ada istiadat, bahasa, gamelan dan berbagai hal lainnya.
Dalam perjanjian tersebut, Sri Sultan HB I memilih tetap melanjutkan tradisi lama budaya mataram.
"Sementara Sunan Pakubuwono III sepakat melakukan modifikasi atau menciptakan bentuk budaya baru," ujar dia.
Saat perjanjian Giyanti selesai, Panembahan Senopati ing Ngalogo meminjam tempat di Ambarketawang Godean untuk tinggal. Tempat tersebut sebenarnya transit jenasah dari Pakubuwono sebelum dimakamkan di makam raja Imogiri.
Saat itu, Panembahan Senopati Ing Ngalogo atau Sri Sultan HB I meminjam tempat di sana untuk melakukan kontempelasi atau bersemedi. Dia menginginkan hal yang sama yaitu Sangkan Paraning Dumadi.
"Saat itu beliau pasrah dan berdoa lahir batin untuk menemukan arah yang sama untuk menentukan titik pembangunan keraton Yogyakarta,"ujar dia.
Hingga ketemulah arah pantai selatan sampai Merapi. Tinggal titiknya yang ditentukan, dan titik tersebut ada sebuah dusun kecil yang memiliki sumber mata air, Umbul Pacetokan. Panembahan Senopati merasa ini satu garis yang lurus Utara Selatan.
"Maka dibangunlah keraton. Bangunan pertama yang dibangun adalah bangsal Kencono atau pagelaran,"terangnya.
Kemudian tanggal 13 Maret 1755 Kasultanan Yogyakarta resmi memproklamasikan diri. Di tanggal tersebut Hadeging Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat dikumandangkan. Selanjutnya, Sri Sultan HB I memulai pembangunan Keraton Yogyakarta. Tepatnya tanggal 9 Oktober 1755, proses pembangunan Keraton Yogyakarta dimulai. Dan dalam kurun waktu 1 tahun, proses pembangunan Keraton dapat diselesaikan.
Selama proses pembangunan keraton tersebut, Keluarga Sri Sultan HB I tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang.
"Beliau Sri Sultan HB I masuk ke Keraton Yogyakarta memasuki Keraton pada kemis Pahing tanggal 13 Suro 1682 atau tanggal 7 Oktober 1756. Peristiwa ini ditandai dengan sengkalan memet Dwi Naga Rasa Tunggal dan Dwi Naga Rasa Wani," ujar dia.
Bebarengan pembangunan Keraton itulah pihak Belanda juga membangun benteng Vredeburg. Benteng ini dibangun untuk mengawasi kegiatan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Sehingga Vrederburg didirikan berhadap-hadapan dengan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat.
Setelah Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat berdiri, kemudian ada negosiasi dengan Pakubuwonon III. Negosiasi tersebut berkaitan dengan pembagian kuliner, budaya, seni tradisi dan juga pakaian.
Hal tersebut dilakukan untuk memperjelas perjanjian Giyanti. Beberapa hal lantas dirubah untuk membedakan antara Yogyakarta dan Solo. Di antaranya ukuran Gamelan di mana untuk Jogja ukurannya lebih kecil dibanding Solo, kemudian tari-tarian di mana geraknya juga dirubah. judul pedalangan dan pusaka juga dirubah.
"Seperti keris misalnya, Pamor keris untuk Jogja ukurannya lebih kecil sementara Solo lebih besar," ujar dia.
Kemudian baju atau kostum di mana Sunan Paku Buwono memilih baju Taqwa (beskap) untuk peranakan. Sementara untuk Yogyakarta, Sri Sultan HB I tidak akan merubahnya yaitu tetap memakai yang lama.