Menanggapi temuan di atas, Dr. Phyllis Zee, direktur Feinberg School of Medicine's Center for Circadian and Sleep Medicine di Northwestern University (yang tidak terlibat dalam studi ini), menilai hasil studi ini bisa jadi salah satu acuan informasi tambahan para penyedia layanan kesehatan saat memeriksa pasien.
“Dari sudut pandang klinis, saya pikir ini bisa meng-highlight pentingnya penyedia layanan kesehatan untuk secara rutin bertanya kepada pasien soal tidur siang dan kantuk di siang hari yang berlebihan dan mengevaluasi kondisi lain, yang berkontribusi untuk berpotensi mengubah risiko penyakit kardiovaskular,” ujar , Dr. Phyllis Zee
Sebagai informasi, American Heart Association memasukkan durasi tidur sebagai salah satu dari delapan penanda kesehatan kardiovaskular. Bersama dengan diet, aktivitas fisik, paparan nikotin, berat badan, kolesterol, gula darah, dan tekanan darah.
“Tidur terkait dengan setiap satu dari tujuh elemen lainnya, itu terkait erat dengan berat badan, tekanan darah, metabolisme glukosa, dan apa yang kita pilih untuk dimakan," kata presiden AHA, Dr. Donald Lloyd-Jones.
(Rizky Pradita Ananda)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.