Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Kerbau Bule Keraton Solo, Dipercaya Jadi Pengawal Pusaka Kiai Slamet

Ary Wahyu Wibowo , Jurnalis-Senin, 25 Juli 2022 |09:00 WIB
Mengenal Kerbau Bule Keraton Solo, Dipercaya Jadi Pengawal Pusaka Kiai Slamet
Kerbau Bule Keraton Solo (dok MPI/Ary Wahyu)
A
A
A

Sekadar catatan, sampai sekarang pihak keraton tidak pernah bersedia menjelaskan apa bentuk pusaka Kiai Slamet. Karena bertugas menjaga dan mengawal pusaka Kiai Slamet, maka masyarakat menjadi salah kaprah menyebut kebo bule ini sebagai Kerbau Kiai Slamet. 

Konon, saat Paku Buwono II mencari lokasi untuk keraton yang baru, tahun 1725, leluhur kerbau bule tersebut dilepas, dan perjalanannya diikuti para abdi dalem keraton. Hingga akhirnya berhenti di tempat yang kini menjadi Keraton Solo atau sekitar 500 meter arah selatan Balai Kota Solo saat ini.

Bagi masyarakat Solo dan sekitar seperti Kabupaten Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri. Kerbau bule Kiai Slamet bukan lagi sebagai hewan yang asing.

Setiap malam 1 Sura dari penanggalan Jawa, atau malam tanggal 1 Muharam menurut kalender Islam (Hijriah), kerbau bule dikirab, menjadi cucuk lampah sejumlah pusaka keraton.

Ritual kirab malam 1 Sura berlangsung tengah malam, biasanya tepat tengah malam, tergantung kemauan dari kerbau Kiai Slamet. Sebab, kerbau baru keluar dari kandang selepas pukul 01.00 WIB. Kirab pusaka ini sangat tergantung pada kerbau Kiai Slamet.

Jika saatnya tiba, biasanya tanpa harus digiring kawanan kerbau bule akan berjalan dari kandang menuju halaman keraton. Peristiwa ini sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Ribuan orang tumpah ruah di sekitar istana, juga di jalan-jalan yang akan dilalui kirab.

Masyarakat meyakini akan mendapat berkah dari keraton jika menyaksikan kirab. Kawanan kerbau bule akan berada di barisan terdepan, mengawal pusaka yang dibawa para abdi dalem keraton. Sejak dulu, sekawanan kerbau bule Keraton Solo memiliki banyak keunikan.

Kawanan kerbau ini, sering berkelana ke tempat-tempat jauh untuk mencari makan tanpa diikuti abdi dalem yang bertugas menggembalakannya. Mereka sering sampai ke Cilacap yang jaraknya lebih 100 kilometer dari Solo, atau Madiun di Jawa Timur.

Namun anehnya, menjelang Tahun Baru Jawa, yakni 1 Sura atau 1 Hijriyah, mereka akan kembali ke keraton karena akan mengikuti ritual kirab pusaka.

Malam 1 Sura sangat berarti bagi orang Jawa, karena tidak saja memiliki dimensi fisik perubahan tahun, namun juga mempunyai dimensi spiritual. Sebagian masyarakat Jawa yakin bahwa perubahan tahun Jawa menandakan babak baru dalam tata kehidupan kosmis Jawa, terutama kehidupan masyarakat agraris.

Peran kerbau bule Kiai Slamet adalah sebagai simbol kekuatan yang secara praktis digunakan sebagai alat pengolah pertanian, sumber mata pencaharian hidup bagi orang-orang Jawa.

Kerbau Kiai Slamet dinilai sebagai sebuah visi raja. Secara harfiah, visi Keraton Solo yaitu ingin mewujudkan keselamatan, kemakmuran, dan rasa aman bagi masyarakatnya.

Kepala Sasono Pustoko Keraton Solo Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puger menyebut, kirab pusaka dan kerbau sebenarnya berakar pada tradisi sebelum munculnya Kerajaan Mataram (Islam), pada prosesi ritual wilujengan nagari.

Pusaka dan kerbau merupakan simbol keselamatan. Pada awal masa Kerajaan Mataram, pusaka dan kerbau yang sama-sama dinamai Kiai Slamet, hanya dikeluarkan dalam kondisi darurat, yakni saat pageblug (wabah penyakit) dan bencana alam.

Pusaka dan kerbau ini diharapkan memberi kekuatan kepada masyarakat. Dengan ritual kirab, Tuhan akan memberi keselamatan dan kekuatan, seperti halnya Ia memberi kekuatan kepada pusaka yang dipercaya masyarakat Jawa memiliki kekuatan.

Sejarawan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Sudarmono menyebut, selain dekat dengan kehidupan petani, sosok kerbau memang banyak mewarnai sejarah kerajaan di Jawa. Semasa Kerajaan Demak, seekor kerbau bernama Kebo Marcuet mengamuk dan tak ada satu prajurit yang bisa mengalahkan.

Karena meresahkan, kerajaan menggelar sayembara barang siapa mampu mengalahkannya akan diangkat menjadi senopati. Secara mengejutkan, Jaka Tingkir atau Mas Karebet mampu mengalahkan Kebo Marcuet dengan tongkatnya.

Mas Karebet kemudian mempersunting putri Raja Demak Sultan Trenggono, dan akhirnya mengambil alih kekuasaan. Jaka Tingkir sebenarnya keturunan Kebo Kenongo, Raja Pengging Hindu yang dikalahkan Kerajaan Demak.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement