Armada kapal laut itu disebut cukup kuat dalam menahan serangan bertubi-tubi dari persenjataan Portugis. Serangan Portugis dari senjata bombard hingga tembakan yang besar tidak menembusnya di bawah garis air dan tembakan esfera semacam meriam besar milik Portugis, tak berhasil menembus badan kapal kendati telah mengenai sasaran.
Konon kapal itu memiliki tiga lapisan besi yang begitu tebal dan kuat. Semua lapisannya masing-masing terdiri dari satu koin tebalnya. Kapten Portugis itu menyebut kapal perang Demak itu begitu mengerikan.
Di bawah komando Pati Unus, Portugis sempat kesulitan melawan Demak. Uletnya strategi Pati Unus ditambah keberaniannya menjadikan pertarungan sengit terjadi di Malaka.
Di sisi lain Portugis juga telah menyiapkan pertahanan kuat. Kedatangan pasukan Demak ke Malaka disambut puluhan meriam besar yang mencuat dari benteng pertahanan Malaka. Sesampainya di Malaka, kapal yang dinaiki Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai.
Pati Unus pun gugur akibat serangan tersebut. Armada islam gabungan dari tanah Jawa itu pun juga harus menelan banyak korban jiwa, sebelum akhirnya memutuskan mundur. Wafatnya Pati Unus membuat sosok Rahmat Hidayat mengambil alih pimpinan komando untuk menarik mundur armada kembali ke Jawa.
(Kurniawati Hasjanah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.