BALAI Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan terus melakukan pengembangan Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut di Kabupaten Barito Kuala untuk kenyamanan wisatawan menikmati keindahan alam ekosistem mangrove sekaligus melihat bekantan.
"Kami terus melengkapi sarana prasarana dibantu para pihak guna meningkatkan pelayanan dan kepuasan pengunjung dalam menikmati keindahan alam di Pulau Bakut," kata Kepala BKSDA Kalsel, Mahrus Aryadi.
Ia menyebut wisatawan yang berkunjung di Pulau Bakut besar kemungkinan bisa bertemu atau melihat secara langsung bekantan dengan persentase 80 sampai 90 persen.
Diketahui TWA Pulau Bakut yang memiliki luasan 15,58 hektare menjadi habitat satwa dilindungi yaitu bekantan si maskot fauna Kalimantan Selatan termasuk jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan.
Bekantan merupakan jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan. Bekantan sendiri ialah satu dari dua spesies dalam genus Nasalis. Bekantan merupakan hewan endemik Pulau Kalimantan yang tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai.
Sekadar informasi, sejak tahun 2021 hingga telah dibangun sarana di area konservasi TWA Pulau Bakut berupa pembuatan gazebo ukuran 6x8 meter dengan bahan material kayu ulin serta dermaga terapung ukuran 2x4 meter dengan bahan material kubus apung.
Adapun sarana pendukung di kawasan TWA Pulau Bakut antara lain dermaga apung, areal parkir, toilet dan loket karcis.
Kemudian ada jalan titian wisata ulin sepanjang 630 meter, 2 buah menara pengamatan satwa, 4 buah shelter, loket karcis, kandang rehabilitasi dan habituasi.