Untuk memastikan kualitas batu berlian yang akan dipakai, CMK Lab tak hanya mengandalkan kemampuan gemologist. Tapi juga mengandalkan mesin berteknologi canggih yang dibuat khusus oleh Sarine, salah satu perusahaan teknologi yang menguasai 90% peredaran diamond di dunia. Seluruh proses dari tambang hingga lab menggunakan mesin Sarine.
Setiap butiran berlian yang akan dipakai oleh CMK akan “diteropong” dengan menggunakan mesin khusus buatan Sarine yang dioperasikan dengan teknologi Artificial Intelligence. Teknologi ini sudah mengecek jutaan batu berlian dan dicatat dalam algoritmanya, dan dimanfaatkan untuk mengecek keaslian dan kualitas sebuah bagut berlian dengan akurasi yang sangat baik.
Petronella Soan, COO PT CMK ikut menjelaskan bahwa perhiasan berlian memiliki harga yang cenderung lebih mahal karena diamond merupakan bahan tambang yang cukup langka.

“Jumlah tambang berlian di dunia tidak terlalu banyak. Selain itu, batu berlian itu terbentuk dari karbon yang mengalami proses kristalisasi ribuan meter di dalam tanah. Proses kristalisasi karbon hingga menjadi batu berlian itu memerlukan waktu jutaan tahun. Untuk proses menambangnya saja sudah sangat sulit, membutuhkan biaya besar," katanya.
"Kemudian, setelah bongkahan batu berlian didapat, tidak bisa langsung dipakai, tapi harus melalui lagi proses pemotongan, penghalusan yang sangat, sangat rumit dan tentunya juga membutuhkan biaya yang cukup tinggi hingga akhirnya didapat sebutir berlian cantik, siap diolah jadi perhiasan,” pungkas Petronella mengakhiri perbincangan.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.