Sementara patung Hanoman yang berada di atas tandon memang memiliki energi lebih kuat dan seolah menjadi raja dari dua patung lainnya.
Tetapi energi ketiga patung tersebut masih kalah dibanding dengan energi makhluk tak kasat mata di sekitar area sumber air. Sosok kakek tua dan makhluk tinggi besar berbulu hitam setinggi pohon terlihat menunjukkan eksistensinya.
Sementara beberapa ayunan juga dihuni energi residual makhluk tak kasat mata yang sering iseng menggerakkan ayunan tersebut. Wujud anak kecil tak terlihat juga bisa terasa di lokasi ini, tak jarang sosok anak kecil inilah yang mencoba menggoda dan mengajak main.
Pemerhati budaya Agung H. Buana menjelaskan, tiga patung ini awalnya tidak berlokasi di taman wisata yang kini tak lagi berfungsi, namun karena proses pencarian sumber mata air hingga berpuluh-puluh meter dalamnya yang dilakukan selama berhari-hari tak juga menemukan diputuskan menggunakan cara supranatural.
(Foto: Avirista Midaada/MPI)
Dari sanalah diperoleh kesepakatan dengan makhluk tak kasat penunggu sumber mata air untuk menaruh patung di lokasi tersebut.
"Beberapa masukan warga dan sesepuh di sini Sumber-sumber air di sekitar balai kota ada penunggunya dan menjaga secara spiritual. Ada dua sumber besar di sini dan kolam renang besar. Sumber inilah kebutuhan air balai kota terpenuhi. Syarat (penunggu sumber mata air ini) yang dimintakan minta dipasangkan patung ini," ucap Agung Buana.
Menurutnya, patung ini awalnya berada di rumah dinas wali kota saat tengah dijabat oleh Soesamto yang menjabat antara tahun 1988 sampai 1998. Patung itu memang sengaja dibuat dan diletakkannya di depan rumah yang dianggap sebagai bagian dari penjaga rumah wali kota saat itu.
Menariknya ada kisah misteri sendiri dikatakan Agung, pada tiga patung sebelum akhirnya dipindahkan ke kawasan Tarekot belakang Balai Kota Malang pada tahun 2013.