9. Selandia Baru
Selandia Baru dipimpin oleh salah satu perdana menteri paling populer di dunia, Jacinda Ardern, yang pada tahun 2020 mengawasi pengesahan Undang-Undang Amandemen Pembayaran Setara. Undang-undang memastikan bahwa perempuan yang bekerja di industri yang didominasi perempuan dibayar sama dengan laki-laki yang bekerja di industri yang didominasi laki-laki.
Hanya 1,6% penduduk Selandia Baru akan keberatan memiliki tetangga yang berbeda agama, angka terendah dari negara mana pun dan Selandia Baru adalah yang kedua setelah Brazil dalam hal tidak keberatan memiliki tetangga dari ras yang berbeda. Dan, tidak mengherankan, hanya 1,3% orang yang berpikir bahwa pria menjadi pemimpin politik yang lebih baik daripada wanita.
10. Denmark
Pemerintah Denmark mampu mendukung kesetaraan gender. Antara lain, melalui waktu bekerja yang fleksibel sehingga wanita bisa mengatur waktu antara karier dan keluarga, biaya day-care yang disubsidi.
Pemerintah juga membuat wanita dapat menitipkan anak saat bekerja tanpa takut biaya tinggi, serta kebijakan cuti melahirkan yang hingga 52 minggu (dibagi bergantian antara ayah dan ibu) dan paling fleksibel di negara-negara Uni Eropa. Dampaknya, banyak wanita yang bisa kembali bekerja setelah melahirkan.
Sedangkan negara memiliki kemungkinan terburuk atau tidak aman ditinggali oleh para wanita berdasarkan survey adalah Afganistan, Suriah, Yaman, Pakistan, Irak, Sudan Selatan, Chad, DR Kongo, Sudan, Sierra Leone.
(Salman Mardira)