SOSOK Rara yang kini dikenal sebagai Pawang Hujan MotoGP Mandalika menjadi buah bibir. Bukan hanya di Indonesia, pemilik nama lengkap Raden Rara Istiati Wulandari.
Mbak Rara yang memiliki nama asli Raden Rara Isti Wulandari mencuri perhatian publik. Bukan hanya di mata warga Indonesia, tetapi dunia.
Mbak Rara dicap dukun oleh sebagian besar netizen di Twitter. Ia dianggap melakukan ritual yang sepatutnya tidak dipertontonkan kepada khalayak ramai.

Tak berhenti di sana, sosok pribadi Mbak Rara pun dikulik netizen. Sampai-sampai mereka menemukan akun LinkedIn Mbak Rara dan netizen kembali merujak profesi yang dijalaninya.
BACA JUGA : Dipakai Rara Pawang Hujan MotoGP Mandalika, Ini Ternyata 8 Kegunaan Singing Bowl
Beberapa pihak menilai kemunculan Mbak Rara dengan singing bowl-nya di tengah hujan di sirkuit Mandalika sebagai atraksi memalukan, sebagian netizen lain menghormati apa yang dikerjakan Mbak Rara. Ya, tindakan yang dilakukannya semata-mata profesionalisme kerja.
BACA JUGA : Rara si Pawang Hujan MotoGP Ternyata Pernah Bantu Pencarian Korban Susur Sungai, Datang Tanpa Diundang
Mbak Rara dan segala kontroversi di baliknya sejatinya adalah sosok perempuan biasa. Lewat unggahan Instastory dan feed Instagram, dia memberikan respons atas apa yang dilakukan netizen kepadanya.

"Mau sayang Rara sebagai pawang hujan boleh, mau benci juga boleh. Yang jelas aku sayang Indonesia. Bersyukur terlahir di Indonesia dan melayani bekerja secara profesional. Di langit Mandalika," begitu tulis Mbak Rara di akun Instagramnya.
Lewat Instastory, Mbak Rara me-repost unggahan netizen dengan nama akun @panitia_hari_kiamat_1610 yang mana ada tulisan soal Mbak Rara di sana. "Di negara sendiri di bully. Semangat mbak Rara," tulisnya.
Banyak hal yang akhirnya jadi senjata menyerang Mbak Rara yang dilayangkan netizen di media sosial. Termasuk soal gaji 3 digitnya yang membuat sebagian orang cukup terkaget-kaget.
Ya, Mbak Rara mengaku dibayar dengan nominal sangat tinggi untuk bisa mengendalikan pergerakan awan.
"Saya dibayar MGPA dan ITDC. Bayaran saya itu tiga digit untuk 21 hari," kata Mbak Rara. Ungkapan dia ini pun ramai dibahas di media sosial. Beberapa netizen bahkan berkomentar kini punya cita-cita baru yaitu jadi pawang hujan.
Apa yang dikerjakan Rara sebagai pawang hujan pun sejatinya bukan hal yang ditutup-tutupi. Dalam unggahan video yang dibagikan akun Twitter @astee_mou, bisa dilihat bersama di sana bahwa Mbak Rara menjelaskan dengan gamblang bagaimana cara kerjanya mengatur awan.

Singing bowl yang dibawanya kemana-mana jadi salah satu medium untuk mengendalikan awan. Tentu, dengan kemampuan indigo yang dimilikinya, Mbak Rara mengaku bisa menembus dimensi lain dan di sana dia bisa mengendalikan awan.
"Kalau mau memanggil awan, lebih ke kekuatan batin. Ini ada singing bowl yang mengatur gelombang suara. Di otak kan ada gelombang otak alfa, delta, dan teta. Itu gelombang otak untuk meditasi," terang Mbak Rara menjelaskan rahasia ritualnya.
"Jadi, kalau gelombang otak pawang itu bisa sampai ke teta dan dengan begitu saat orang itu tenang dan slow, dia bisa sampai ke alam lain," tambahnya.
Mbak Rara melanjutkan, sebenarnya secara fakta, ia mengaku dirinya itu pakai kayu dan asap. Jadi, uap itu ke atas.
"Sebenarnya Memecah awan itu dengan energi gelombang doa, getaran ini simbol (sembari memutar singing bowl). Terus ada teriakan Rara, kan sering kan Rara teriak (dia pun teriak) kalau kita sudah teriak nanti cuacanya panas," paparnya.
Setelah dia mempraktikkan beberapa hal, tiba-tiba saja di video tersebut cuaca di atas kepala Rara berubah menjadi terik. "Nah ini dalam 1 detik saja sudah panas," curhatnya.
"Jadi, afirmasi memohon berkah Allah Tuhan Maha Kuasa supaya matahari ada di atas kepala Rara," sambungnya.
Ia melanjutkan, dalam menjalankan praktik kerjanya ini, ada tantangan yang harus dijalani yaitu Rara mesti terkurung di tempatnya bekerja.
"Jadi, saya benar-benar mau melayani MGPA mau melayani ITDC, mau melayani tim korlap. Jadi, saya otomatis harus sayang dan simpati dengan pimpinan, dengan tim kerja mereka. Saya sayangi wajah-wajahnya, seperti itu, supaya kuat lintas dimensinya," papar Rara.

Mbak Rara pun menjelaskan soal tujuan dirinya memutar atau memukul singing bowl yaitu agar menciptakan getaran suara. "Getaran ini kan sampai ke hati, telinga, sampai ke alam lain. Gegara bunyi singing bowl, langit bisa mengikuti langkah Rara," katanya.
"Saya sampai enggak lihat ke bawah karena fokus ke atas, sampai nginjek semen. Karena anginnya itu mengikuti tangan saya. Arah saya ke kanan, dia ikut ke kanan (dari Barat ke Utara)," sambungnya.
Di kesempatan itu juga Mbak Rara dengan lantang mengaku pernah gagal dalam menjalankan tugasnya. Momen itu terjadi saat dirinya diminta mengawal pertandingan sepakbola Indonesia melawan Jepang di Gelora Bung Karno (GBK).
"Waktu itu Rara ngawal sepakbola Indonesia lawan Jepang. Saya dihubungi coach Indra bagaimana caranya Garuda mania di GBK aman dan happy. Nah, waktu itu saya bilang ke coach kalau saya sedang datang bulan, dan kalau saya datang bulan, otomatis energi saya berkurang," ceritanya.
Terus Mas Indra, kata Mbak Rara, bilang dicoba dulu dan beneran hujan. "Waktu itu saya merasa gagal dan saya nangis dan malah makin gagal," kata Rara.
Tapi, karena ada rasa untuk tetap menuntaskan pekerjaan, Rara pun mengaku terpacu untuk bisa menggeser awan dan benar berhasil meski itu terjadi setelah pertandingan usai.
"Ya, berhasil menggeser hujan. Ya, minimal Garuda Mania bisa pulang, tapi pas pertandingan memang hujan dan Indonesia kalah. Itu sedih sih," curhat Rara.

Terlepas dari semua cibiran yang dilayangkan untuk Mbak Rara si pawang hujan MotoGP Mandalika, beberapa netizen tetap mengangkat topi dan menghargai apa yang dilakukan Mbak Rara.
"Kearifan lokal yang mungkin enggak ditemukan di sirkuit negara-negara lain selain di Indonesia. mungkin di Malaysia masih ada, ya, yaitu Pawang hujan (rain handler). Semangat Mbak Rara," ungkap @ariefrasyad yang ikut membagikan video Mbak Rara yang sedang beraksi.
(Helmi Ade Saputra)