"Berdasar pengalaman saya di rs, pada masa Juni-Juli 2021 jumlah pasien dengan gagal napas sangat tinggi kemudian diikuti ketidakcukupan oksigen yang akibatnya angka kematian begitu tinggi dibandingkan gelombang Omicron sekarang," papar dr Seno dalam konferensi pers virtual, Rabu (2/3/2022).
Jadi sepertinya, lanjut dr Seno, setiap varian Covid-19 itu memiliki karakternya sendiri yang berakibat pada organ tertentu. Pada kasus Delta misalnya, infeksinya itu dominan pada bagian paru yang paling kecil atau biasa disebut Alveolus.
"Pada infeksi Delta, terjadi peradangan paru yang sangat hebat di area Alveolus. Lalu, terjadi juga pneumonia, proses inflamasi yang hebat atau badai sitokin, terjadi juga edema paru akut, yang akhirnya kebutuhan akan oksigen begitu tinggi. Makanya saat itu kebutuhan ICU pun membludak," papar dr Seno.
Tapi, situasi gelombang Omicron tidak menyebabkan kondisi-kondisi yang terjadi pada Delta. Di rumah sakit misalnya, situasi terkendali dan tidak membutuhkan tenda darurat karena membludaknya pasien.
Lalu, kalau bicara sasaran infeksi yang diincar Omicron, itu tidak mengarah pada organ paru, kata dr Seno, melainkan sistem pernapasan saluran atas. Makanya, gejala yang banyak dilaporkan saat ini sakit tenggorokan atau batuk-pilek.