POPULASI gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) di Provinsi Bengkulu sudah kian mengkhawatirkan. Di mana estimasi populasi hanya mencapai 50 ekor. Kawanan ini terfragmentasi dibeberapa kawasan hutan.
Satu dasawarsa sebelumnya, tercatat ada 16 ekor gajah Bengkulu, ditemukan mati. Catatan ini kemudian bertambah lagi pada 2018-2021, tiga ekor gajah ditemukan mati.
"Kematian ini terjadi secara tidak alami. Seperti diracun, ditembak dan diburu," kata Penanggungjawab Konsorsium Bentang Alam Sebelat, Bengkuku, Ali Akbar kepada MNC Portal Indonesia.
Analisis Konsorsium Bentang Alam Seblat, jelas Ali, banyaknya kasus kematian gajah ini ditengarai masih dominannya stigma, bahwa gajah adalah hama. Stigma ini menjadi alasan utama bagi para pemangku perkebunan untuk membunuh kawanan ini.
Akibat dari fragmentasi habitat, terang Ali, kawanan gajah yang hidup di Bentang Alam Seblat menjadi hidup terkelompok dengan kawanan kecil. Efek lanjutan dari ini, jelas Ali, memunculkan perkawinan gajah yang dekat pertalian darahnya (inbreeding).
"Kondisi ini memicu turunnya fungsi genetik gajah yang kemudian bermuara pada cepatnya laju kepunahan gajah di Bengkulu," jelas Ali.
Benteng terakhir gajah Sumatera kian terdesak di Bengkulu. Sejak 2018, pemerintah telah menetapkan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah Sumatera seluas 29 ribu hektare. Meliputi, hutan produksi Air Rami, hutan produksi terbatas Lebong Kandis.
Kemudian Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan sebagian konsesi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit.
Namun, kata Ali, koridor yang sudah diproyeksikan untuk menjadi jalur satwa itu, nyatanya terus rentan dengan beragam ancaman.