ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan negara-negara yang saat ini tengah berjuang menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Kenaikan ini tidak terlepas dari varian Omicron.
Menurut WHO, penyebaran kasus Omicron yang cepat di seluruh dunia membuat kapasitas pelacakan kontak di banyak negara jadi kewalahan. Oleh karena itu, WHO pun membuat pedoman terbaru masa karantina kesehatan sebuah wilayah.
WHO menilai pedoman baru ini mungkin bisa bermanfaat di tempat-tempat atau daerah-daerah yang layanan esensialnya sedang sangat berada di bawah tekanan berat alias kewalahan.
"Mengingat situasi ini, negara bisa mempertimbangkan pendekatan pragmatis, mengingat pelacakan kontak dan persyaratan karantina pada masyarakat dapat menyebabkan gangguan signifikan terhadap layanan penting, termasuk layanan kesehatan,” bunyi keterangan WHO seperti dilapor Reuters, Jumat (18/2/2022).
Sebagai contoh, badan kesehatan PBB itu mengatakan durasi karantina bisa diperpendek misalnya menjadi 10 hari tanpa tes, atau hanya tujuh hari dengan hasil tes Covid-19 negatif dengan catatan jika orang tersebut tidak menunjukkan gejala.
Disebutkan lebih lanjut, dalam pedoman sementara WHO yang baru ini, pilihan lainnya, jika lokasi tersebut pengujian untuk mempersingkat karantina tidak memungkinkan.
Maka aspek tidak adanya gejala bisa digunakan sebagai proxy untuk pengujian. WHO juga mengatakan, dalam situasi yang sama negara bisa mempertimbangkan untuk melonggarkan langkah-langkah pelacakan kontak aau tracing.
WHO menyarankan dalam pelaksanaanya, untuk kontak orang yang terinfeksi Covid-19, mereka yang berisiko tinggi terinfeksi seperti para petugas kesehatan harus diprioritaskan, orang dengan penyakit penyerta dan orang yang tidak divaksinasi harus diprioritaskan.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.