Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Kekayaan Kuliner Gorontalo, Simbol Perdamaian Kerajaan Loh

Antara , Jurnalis-Jum'at, 11 Februari 2022 |12:06 WIB
Mengenal Kekayaan Kuliner Gorontalo, Simbol Perdamaian Kerajaan Loh
Kuliner Ilabulo di Gorontalo (dok ANTARA/Adiwinata Solihin)
A
A
A

GORONTALO punya kekayaan kuliner menakjubkan yang menarik untuk diulik. Dosen antropologi dari Universitas Padjadjaran, Seto Nurseto, mengatakan makanan terkait erat dengan siklus kehidupan manusia.

Oleh karena itu, dia meyakini ada makanan Gorontalo yang terkait kelahiran, pernikahan, dan kematian.

“Salah satunya, Tili’aya, yang menjadi syarat dalam acara syukuran adat,” kata Seto.

Sebagai contoh, pada setiap perayaan kelahiran, kematian, dan doa-doa syukur, nasi kuning dan Tili’aya selalu disajikan. Tili’aya merupakan makanan manis serupa Srikoyo dari Padang.

Seto menjelaskan, nasi kuning memang disajikan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

“Nasi kuning dibentuk segitiga karena menyimbolkan gunung emas yang melambangkan gunung kemakmuran. Dulu, nasi kuning berfungsi sebagai sesaji, sebelum orang masuk ke hutan. Namun, ketika Islam masuk, sesaji perlahan ditinggalkan," kata Seto yang juga peserta MasterChef Indonesia Musim 8.

infografis

BACA JUGA:25 Tempat Kuliner di Purwokerto Wajib Dicoba, Rasanya Bikin Nagih

Pelaku UMKM Bakul Goronto yang berdarah Gorontalo, Zahra Khan, menyebut ada sejumlah makanan khas Gorontalo yang kini mulai sulit ditemukan.

Salah satunya adalah Milu Siram Pulo atau Binde Biluhuta yang menggunakan bahan dasar jagung pulut (binde pulu). Jagung jenis ini sulit didapatkan, karena banyak petani lebih suka menanam jagung kuning hibrida. Jagung pulut hanya bisa didapatkan di desa-desa tertentu.

Milu Siram Pulo sendiri merupakan makanan yang masih sangat mungkin dihidupkan, karena jagung putih masih ada, belum punah.

”Yang harus diperhatikan adalah mencari cara meningkatkan semangat petani untuk tanam jagung putih dan jagung kuning lokal Gorontalo. Selama ini ketergantungan terhadap jagung hibrida terbilang tinggi. Para petani perlu didorong untuk menanam varietas lokal,” kata Zahra, yang mendalami ilmu pangan.

Sementara itu, Seto mengamati pentingnya promosi yang terus-menerus. Ia mengatakan, cara promosi yang paling efektif adalah melalui acara televisi, yang bisa menjangkau banyak kalangan. Misalnya, program kuliner yang diselipkan di berbagai acara utama. Di samping itu, makanan khas Gorontalo yang kering dan tahan lama bisa lebih banyak dipromosikan di kota besar di luar Gorontalo.

Seperti apa profil kuliner Gorontalo? Mari telusuri jejak sejarah dan budaya yang terkait kuliner Gorontalo.

Pengaruh Arab yang kuat

Seto menjelaskan, kuliner Gorontalo memiliki sejarah panjang. Ketika bangsa Arab, Cina, dan Belanda datang, berbagai sisi kebudayaan etnis Gorontalo terpengaruh, termasuk budaya kulinernya.

“Pengaruh Islam dalam kuliner Gorontalo sangat kuat. Yang menarik, kuliner menjadi identitas pembeda antara Gorontalo dan etnis lain yang menjadi tetangganya, misalnya Minahasa. Karena kepercayaan yang berbeda, bahan pangan yang digunakan jadi berbeda. Jika etnis Minahasa mengonsumsi daging babi, etnis Gorontalo mengonsumsi daging sapi.”

Zahra menambahkan, masyarakat belum memeluk agama apa pun sebelum Islam masuk ke tanah ini. Penduduknya masih memeluk kepercayaan hingga kemudian bangsa Arab datang dan menyebarkan agama Islam. Saat itu, kuliner Gorontalo juga banyak terpengaruh. Pada dasarnya, kuliner Gorontalo terbilang minim bumbu. Ketika memasak ikan bakar, misalnya, ada yang tidak memberi bumbu sama sekali, ada juga yang hanya memberi bumbu minimalis, seperti perasan jeruk nipis dan garam.

“Sementara itu, makanan Arab menggunakan banyak sekali rempah aromatik, seperti kayu manis, jinten, dan ketumbar. Sejak masuknya Islam lewat bangsa Arab, banyak masakan Gorontalo yang kemudian juga menggunakan rempah dengan aroma yang kuat. Misalnya, Ayam Bakar Iloni (bumbu rempah), Kambing Bakar Balanga, dan Kuah Tabu Moitomo (sebutan lain Kuah Bugis). Ini juga menunjukkan bahwa makanan Gorontalo juga dipengaruhi daerah tetangga yang lebih dulu kedatangan bangsa Arab, seperti Bugis.”

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement