Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Meski Pandemi Covid-19, Target Penurunan Stunting Harus Dikejar

Dyah Ratna Meta Novia , Jurnalis-Jum'at, 17 Desember 2021 |14:20 WIB
Meski Pandemi Covid-19, Target Penurunan Stunting Harus Dikejar
Memerangi stunting (Foto: The Telegraph)
A
A
A

LEBIH dari 10 ribu masyarakat dari 30 Propinsi di Indonesia telah mendapatkan edukasi gizi khususnya mengenai kandungan gizi susu kental manis dan dampaknya bila dikonsumsi oleh balita.

Literasi gizi jadi upaya bersama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang gizi. Langkah ini sekaligus sebagai upaya untuk memutus mata rantai gizi buruk dan percepatan penurunan stunting.

 pentingnya mencegah stunting

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto mengatakan, meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19, namun ia optimis target penurunan stunting itu tetap tercapai. Oleh karena itu target penurunan stunting harus terus dikejar.

“Target kita pada 2024 itu stunting turun menjadi 14%. Seharusnya target penurunan pertahun itu minimal 2,7%, namun karena pandemi, pada 2020 penurunannya hanya 0,8%, kecil memang, tapi di tahun 2022 nanti, dengan kita melibatkan semua sumberdaya di masyarakat, diharapkan bisa turun menjadi 18%," ujarnya, Jumat, (17/12/2021).

Pihaknya, ujar Agus, mengapresiasi kegiatan edukasi gizi dan susu kental manis oleh berbagai lembaga. Konsumsi susu kental manis oleh balita itu kurang baik, oleh karena itu edukasi ini penting untuk terus dilakukan.

Ketua Umum HIMPAUDI Netti Herawati mengatakan, upaya penurunan stunting ini adalah tanggung jawab pemerintah. “Edukasi- edukasi gizi dan konsumsi makanan bergizi untuk anak ini dilakukan oleh lembaga-lembaga masyarakat, namun bukan berarti pemerintah bisa lepas tangan. Tetap tanggung jawab untuk peningkatan literasi gizi masyarakat ini ada di pemerintah, oleh karena itu yang diharapkan ke depannya adalah bagaimana kolaborasi pemerintah dengan masyarakat untuk bersama-sama mengatasi masalah ini,” jelas Netti Herawati.

Ketua Majelis Kesehatan PP 'Aisyiyah, Chairunnisa M.Kes, mengatakan, PP Aisyiyah akan terus melakukan edukasi gizi khususnya mengenai penggunaan susu kental manis.

“Kami meneliti resiko kejadian stunting, ternyata ada potensi kejadian stunting pada anak yang hanya mengkonsumsi susu kental manis. Kami juga melakukan penelitian terhadap konsumsi susu kental manis oleh ibu hamil dengan balita, ternyata hasil penelitian banyak sejali ibu-ibu yang mengatakan dan mengkonsumsi susu kental manis ini sebagai susu. Ini bukti bahwa literasi gizi dan konsumsi susu kental manis pada balita ini perlu menjadi concern bersama,” jelas Chairunnisa.

Dokter Erna Yulia Soefihara, Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU menjelaskan, dulu susu kental manis di supermarket dikelompokkan ke dalam susu anak, sekarang sudah terlihat di supermarket dikelompokkan di rak gula.

"Jadi ini adalah kemajuan dari edukasi yang kita lakukan selama ini, bahwa sudah ada pemahaman bahwa ini bukan susu, tapi gula,” jelas Erna.

Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Arif Hidayat menambahkan, bahwa tahun ini penelitian YAICI melakukan penelitian konsumsi pada ibu hamil, dan hasilnya cukup mengagetkan ternyata 71% ibu mengkonsumsi SKM sebagai asupan gizi selama hamil. Sebanyak 60,6% ibu mengkonsumsi SKM sebanyak 3-6 takaran sendok.

 Baca juga: Orangtua Merokok, Anaknya Berpotensi 5,5 Kali Lebih Besar Jadi Stunting

"Oleh karena itu YAICI akan terus berkomitmen untuk memberikan edukasi gizi dan juga advokasi mengenai susu kental manis," ujarnya.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement