Bagi suku Mangbetu, mengikat kepala ini merupakan simbol keindahan, keagungan, kekuatan, dan kecerdasan yang lebih tinggi. Sementara itu, kepemimpinan suku Mangbetu terkait dengan dua konsep, yaitu nataate dan nakira.
Nataate adalah kekuatan dinamis yang ada dalam diri seseorang dan membuatnya disegani oleh orang lain, sedangkan nakira adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam hampir semua usaha, terutama dalam hal menari, menyanyi, dan berbicara di depan umum. Keunggulan nataate dan nakira dipertimbangkan secara serius dalam pemilihan kepemimpinan sebagai penerus suku.
Selain itu, suku Mangbetu mencapai tingkat pengembangan teknologi dan material yang sangat tinggi, seperti yang ditunjukkan oleh laporan awal dari penjelajah Eropa, Georg Schweinfurth pada tahun 1870.
Sebagian besar budaya material Mangbetu kemungkinan berasal dari orang-orang yang ditaklukkan, tetapi suku Mangbetu telah mendorong pengembangan semua seni masyarakat di bawah kendali mereka. Contoh kerajinan mereka termasuk rantai dan pisau yang ditempa dengan rumit dengan gagang gading berukir, dekorasi geometris tubuh, pot, tikar, dan rumah.
Meski begitu, praktik suku Mangbetu ini mulai menghilang pada tahun 1950-an, saat banyak orang Eropa yang berdatangan dan bagian dari westernisasi. Hal ini juga dipengaruhi oleh pemerintahan Belgia yang melarang praktik tersebut.
(Kurniawati Hasjanah)