JAKARTA - Sebuah pulau kecil di Samudra Pasifik, Yap menggunakan cakram batu raksasa sebagai mata uang untuk bertransaksi.
Melansir NPR pada Sabtu (4/12/2021), cakram batu raksasa itu disebut rai dan digunakan sebagai simbol bentuk uang oleh penduduk pulau Yape selama ratusan tahun.
Baca Juga:
15 Tempat Wisata Populer di Madiun, Tak Boleh Dilewatkan
Geger, Vila Romawi Terkubur 1.700 Ditemukan di Lahan Pertanian
Untuk menentukan nominal yang terkandung di batu bisa dilihat dari dua faktor. Makin besar nilainya, maka makin besar ukuran dan cerita di balik pengangkutan batu.
Misalnya, jika batu tersebut berhasil diambil setelah mengorbankan banyak nyawa, maka nilainya bisa meroket. Tak tanggung-tanggung, harganya bisa dibelikan tanah hingga membayar mahar pernikahan.
Sayangnya, penggunaan batu sebagai mata uang ini terhenti pada awal abad 20. Hal ini lantaran adanya konflik antara Spanyol dan Jerman, yang berimbas hingga ke daerah Yap dan sekitarnya.
Selain itu, saat pasukan Kekaisaran Jepang mengambil alih Yap selama Perang Dunia II, banyak Batu Rai yang digunakan untuk material konstruksi atau jangkar kapal yang membuat batu-batu tersebut semakin berkurang jumlahnya.
Walau sekarang penduduk Yap lebih memilih menggunakan mata uang modern untuk transaksi ekonomi sehari-hari, penggunaan Batu Rai sendiri masih digunakan untuk transaksi sosial yang penting dan bersifat tradisional. Para penduduk Pulau Yap masih menggunakan batu tersebut di acara-acara, seperti pernikahan, warisan, atau sebagai tanda aliansi antara dua keluarga.
(Kurniawati Hasjanah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.