Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pulang Sekolah Jadi Risiko Tinggi Penyebaran Covid-19, Ini Alasannya

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Senin, 06 September 2021 |16:42 WIB
Pulang Sekolah Jadi Risiko Tinggi Penyebaran Covid-19, Ini Alasannya
Pandemi Covid-19 (Foto: Pixabay)
A
A
A

SEKOLAH tatap muka yang sudah dilakukan di beberapa wilayah dengan status level PPKM di bawah 4 menjadi jawaban atas keresahan orangtua. Ya, beberapa orangtua mengeluhkan bahwa sekolah jarak jauh atau online tidak lebih efektif dibanding sekolah diajar oleh guru secara langsung.

Tapi, sebagian orangtua memiliki kekhawatiran berlebih pada penerapan sekolah tatap muka. Alasannya sangat logis, khawatir anaknya terpapar Covid-19 ketika berada di luar rumah.

 sekolah tatap muka

Dokter Spesialis Anak dan Magister Sains Psikologi Perkembangan Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, pun menerangkan bahwa salah satu momen yang cukup krusial untuk anak-anak yang melakukan sekolah tatap muka adalah momen pulang sekolah.

"Pada remaja khususnya, mereka yang sudah di atas 10 tahun, berpotensi cenderung berbondong-bondong pulang sekolahnya. Tidak hanya itu, kecenderungan mereka akan ngobrol-ngobrol dengan teman pun sangat bisa terjadi dan ini bisa membuat maskernya melorot sehingga risiko terpapar sangat mungkin terjadi," papar Prof Soedjatmiko di webinar daring beberapa waktu lalu.

Anggota ITAGI tersebut pun menerangkan bahwa risiko penularan Covid-19 saat berangkat sekolah tidak setinggi pulang sekolah. Sebab, saat berangkat sekolah si anak dikejar waktu untuk segera tiba di sekolah.

"Nah, kalau pulang sekolah itu relatif longgar. Mereka merasa lebih plong setelah menyelesaikan kewajiban belajar di sekolah dan di situlah risikonya sangat tinggi," ungkap dia.

Untuk mengurangi kejadian si anak bergerombol dan saling cerita dengan temannya karena sudah kangen tidak bertemu secara langsung, Prof Soedjatmiko menyarankan agar pihak sekolah atau orangtua murid menyediakan ruang 'zooming' buat si anak.

"Zoom-nya tapi bukan bahas pelajaran, tapi biarkan si anak ngobrol apapun itu sama teman-temannya. Ini akan membuat hubungan sosialisasi si anak dengan temannya tetap hangat dan tidak membuat momen pertemuan secara langsung menjadi sesuatu yang sangat dinantikan dan malah meningkatkan risiko," paparnya.

"Jadi, biarkan si anak ngobrol apapun itu dengan temannya, sehingga dia rasanya sudah seperti sering ketemu. Ini membuat si anak enggak terlalu excited pas ketemu lagi dan akhirnya risiko masker melorot karena ngobrol dengan temannya menjadi kecil," tambah Prof Soedjatmiko.

(Dyah Ratna Meta Novia)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement