SIRAMAN yang dilakukan Lesti Kejora maupun banyak calon pengantin lainnya merupakan rangkaian acara menuju pernikahan. Biasanya, siraman digelar sehari atau beberapa hari sebelum hari H.
Ada kepercayaan di tengah masyarakat bahwa calon pengantin yang baru menyelesaikan siraman, segala noda di masa lalu akan luruh. Dengan begitu, kedua calon pengantin kembali bersih menyambut hari baru di kehidupan rumah tangganya.
Menurut laporan ilmiah yang diterbitkan di Repositori Universitas Sumatera Utara, upacara siraman secara kasat mata artinya memandikan. Tapi di balik itu, terdapat makna yang terkandung di dalamnya.

"Secara filosofis, siraman dimaksudkan sebagai upaya penyucian diri lahir-batin sebelum memasuki mahligai perkawinan. Awalnya siraman adat Sunda tidak mengandung unsur musik, tapi setelah mengalami perkembagan dan inovasi, siraman adat Sunda menampilkan musik Kecapi Suling sebagai ilustrasi musik," terang laporan tersebut.
Prosesi siraman atau dalam bahasa Sunda dikenal dengan Ngebakan dilakukan dengan tata cara yang khusus, berikut alurnya:
1. Ngecagkeun aisan
Calon pengantin wanita keluar kamar dengan digendong atau diais - bahasa Sunda. Menurut beberapa sumber, prosesi ini bermakna tanggung jawab orangtua kepada anaknya.
Baca Juga : Cantiknya Lesti Kejora di Prosesi Siraman, Netizen Pangling!
2. Ngaras
Setelah itu, calon pengantin melakukan sungkeman dan membasuh kaki kedua orangtua sebagai simbol penghormatan dan permohonan izin.
3. Pencampuran air siraman

Kedua orangtua akan menuangkan air siraman ke dalam bokor atau sejenis wadah besar yang cekung dan bertepi lebar terbuat dari logam. Lalu, air diaduk. Di dalam cawan tersebut, ada air dari 7 sumber mata air, 7 macam bunga wangi, dua helai kain sarung, dua helai selendang batik, satu helai handuk, pedupaan, baju kebaya, payung besar, dan lilin.
Baca Juga : Lesti Kejora Siraman dengan 7 Sumber Mata Air, Ini Maknanya
4. Ngebakan
Ritual ini sendiri diawali dengan permainan musik kecapi suling. Calon pengantin wanita dibimbing oleh perias menuju tempat Ngebakan dengan menginjak 7 helai kain batik berbeda motif.
Siraman dimulai dari sang ibu, ayah, dan disusul oleh para sesepuh. Jumlah penyiram ganjil yaitu 7,9, atau paling banyak 11 orang.
5. Potong rambut
Calon pengantin perempuan dipotong rambutnya oleh kedua orangtua sebagai lambang untuk memperindah diri baik secara lahir dan batin. Setelah rambut dipotong, acara dilanjutkan dengan ngeningan.