JAKARTA - Kemampuan setiap siswa dalam satu kelas sangat bervariasi. Namun, banyak dari kegiatan belajar mengajar di Indonesia saat ini masih menggunakan pengajaran standar yang menyamaratakan materi dan pelatihan untuk semua siswa yang ada di kelas. Akibatnya, siswa yang unggul tak bisa memaksimalkan potensinya, sementara siswa yang tertinggal menjadi kesulitan dan tidak termotivasi untuk memahami materi dengan baik.
Untuk mengatasi jarak pengetahuan dan tingkat pemahaman yang berbeda-beda (learning gap), kini sistem pembelajaran adaptif (adaptive learning) mulai banyak diadopsi. Pembelajaran adaptif adalah salah satu teknik untuk memberikan materi pembelajaran yang telah dipersonalisasi atau dirancang khusus sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa.
Baca Juga: Kemampuan Matematika Anak Laki-Laki Lebih Bagus dari Perempuan Cuma Mitos, Ini Kata Peneliti
Sistem pembelajaran ini biasanya mengandalkan basis teknologi, algoritma, dan data, agar bisa secara dinamis menyesuaikan materi dengan hasil interaksi dengan siswa. Misalnya, sistem akan memberikan soal latihan kepada siswa untuk mengevaluasi kemampuannya. Jika siswa memiliki kelemahan di bidang pelajaran tertentu, maka sistem akan secara otomatis memberikan materi atau soal latihan lebih banyak di bidang tersebut.
Kelebihan dari pembelajaran adaptif adalah setiap siswa bisa mendapatkan umpan balik yang relevan dan mengakses materi khusus yang sesuai dengan kebutuhan belajar mereka. Dengan begitu, setiap siswa dapat belajar dengan kecepatan dan kemampuannya masing-masing, tanpa perlu merasa ‘tertekan’ untuk harus mengejar teman-temannya.
Di saat yang sama, penerapan pembelajaran adaptif bisa mempermudah guru untuk memantau siswa mana yang membutuhkan bantuan, mengukur efektivitas kurikulum yang telah dibuat, serta memaksimalkan hasil belajar.
Baca Juga: Dokter: Paparan Gadget Berisiko Tunda Perkembangan Otak Anak
Konsep pembelajaran adaptif telah diimplementasikan di negara-negara lain, dengan tingkat kesuksesan yang signifikan. Misalnya, DreamBox adalah software pembelajaran adaptif di Amerika Serikat yang berfokus untuk mengurangi kesenjangan pengetahuan di mata pelajaran matematika tahap SD dan SMP.
Berdasarkan riset dari Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan (CEPR) di Universitas Harvard terhadap 3.000 siswa yang menggunakan DreamBox, ditemukan bahwa penggunaan DreamBox dengan durasi 60 menit per minggu memungkinkan siswa untuk mencatatkan nilai matematika 58% lebih tinggi dari periode biasa.