JAKARTA – Berdasarkan sensus penduduk 2020, proporsi generasi milenial mencapai 25,87 persen, atau kedua terbanyak dari total populasi Indonesia. Sedangkan hasil survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mengungkapkan, 48 juta jiwa atau setara 53% pekerja di Indonesia berasal dari generasi milenial, dengan 25 juta di antaranya sudah berstatus sebagai karyawan tetap.
Dominasi milenial pada populasi dan angkatan kerja telah menempatkan mereka sebagai bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi, baik sebagai konsumen, pekerja, dan pemilik usaha. Kondisi kesehatan mereka di tahun-tahun mendatang, tidak hanya menentukan kesehatan negara secara keseluruhan, namun juga potensi pertumbuhan ekonomi negara.
Hanya saja generasi milenial memiliki tingkat prevalensi penyakit dan tantangan kesehatan lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Menurut Blue Cross Blue Shield (BCBS) Health Index di Amerika Serikat (AS), generasi milenial rata-rata mulai mengalami penurunan kesehatan di usia 27 tahun, dengan hipertensi sebagai salah satu penyakit yang banyak diderita.
Baca Juga: Markis Kido Punya Riwayat Hipertensi, Waspadai Silent Killer Pemicu Serangan Jantung
Tomoaki Watanabe. Direktur OMRON Healthcare Indonesia, mengatakan kondisi ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun mencapai 20 persen dan pada kelompok usia 35-44 tahun mencapai 34 persen.
Hipertensi disebut sebagai the silent killer karena sering tanpa keluhan, sehingga pasien tidak mengetahui dirinya menyandang hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Hipertensi bisa meningkatkan beban kerja jantung sehingga otot jantung menjadi lebih tebal dan kaku. Akibatnya fungsi jantung menjadi tidak normal dan bisa meningkatkan risiko serangan jantung.
Penderita hipertensi yang memiliki beran badan berlebih (obesitas), mengidap diabetes atau merokok akan memiliki risiko lebih tinggi untuk kadar kolesterol darah tinggi atau diabetes, risiko terkena serangan jantung akan lebih tinggi.
Baca Juga: 7 Cara Mudah dan Sehat Cegah Gejala Hipertensi
Hipertensi Masih Jadi Isu Kesehatan Dunia
Hari Hipertensi Sedunia yang digelar setiap 17 Mei yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat bahwa hipertensi dapat dicegah dan diobati menunjukkan bahwa hipertensi adalah isu kesehatan yang sangat krusial di seluruh dunia.
Tahun ini, Hari Hipertensi Sedunia mengusung tema “Measure Your Blood Pressure Accurately, Control It, Live Longer”. Indonesia mengadopsi tema tersebut dengan “Cegah dan Kendalikan Hipertensi dengan Tepat untuk Hidup Sehat Lebih Lama”. Tema ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan dan pengendalian hipertensi yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga.
Pencegahan dan pengendalian hipertensi memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi di tengah masa pandemi Covid-19, hipertensi menjadi salah satu penyakit penyerta (komorbid) yang membuat penderitanya sangat rentan terpapar virus.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 per tanggal 13 Oktober 2020, dari total kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19, sebanyak 1.488 pasien tercatat memiliki penyakit penyerta dengan 50,5 persen diantaranya adalah penyakit hipertensi. Sementara dari jumlah 1.488 kasus pasien yang meninggal diketahui 13,2% dengan hipertensi.