Dosen FKKMK UGM ini mengatakan gejala parosmia cukup banyak dijumpai pada pasien Covid-19 di luar negeri. Dalam beberapa penelitian di luar negeri diketahui kemunculan parosmia cukup banyak berkisar antara 50,3 hinga 70 persen. Sementara di Indonesia penelitian terkait parosmia belum banyak dilakukan.
Parosmia dapat terjadi pada pasien Covid-19 akibat virus SARS-Cov2 memengaruhi jalur proses penciuman seseorang. Hal tersebut bisa dari reseptor saraf penciuman (saraf kranial 1), saraf penciuman, atau sampai dengan pusat persepsi saraf penciuman.
Nah, Ahli Virologi Universitas Udayana I Gusti Ngurah Kade Mahardika menjelaskan semua jaringan tubuh manusia bisa terinfeksi oleh virus penyebab Covid-19 ini. Karena itu, pasien berisiko mengalami kerusakan jaringan tubuh dalam jangka panjang hingga menyebabkan gangguan respons imun dan gangguan saraf seperti penciuman atau yang lebih sering disebut Long Covid.
Gejala Long Covid berupa kehilangan penciuman dan pengecapan akan dialami para penyitas Covid-19. Oleh karena itu, penyintas Covid-19 harus kembali melatih indera penciuman agar sensitivitasnya kembali pulih.
Jadi, ketika Anda terpapar Covid-19 akan lebih baik menggunakan hasil PCR sebelum memutuskan untuk menyelesaikan karantina. Pasalnya, indra penciuman masih bisa tidak normal meskipun Anda sudah sembuh.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.