Sementara itu, ketika anosmia mulai membaik, Profesor Evan Reiter, MD, dari Departemen Otolaryngology-Head and Neck Surgery, ada risiko komplikasi yang bisa saja terjadi.
"Risiko komplikasi setelah anosmia membaik ialah distorsi penciuman atau yang biasa disebut parosmia. Karena sebelumnya terjadi gangguan di saraf penciuman, itu membuat otak tak bisa langsung memperbaiki saraf dan membuat Anda kesulitan mengenali aroma," papar Prof Reiter.
Pada beberapa kasus, karena mengalami kondisi tersebut, pasien Covid-19 jadi kehilangan nafsu makan. Itu terjadi karena makanan yang akan dimakan baunya selalu busuk, padahal itu bukan aroma sesungguhnya.

Sementara untuk parosmia, Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan dan kepala leher (THT-KL) Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada, dr Anton Sony Wibowo, SpTHT-KL, MSc, FICS, menerangkan bahwa parosmia adalah gejala gangguan penghidu atau penciuman yang membuat seseorang merasa membau secara berbeda dari seharusnya.
"Pasien dengan parosmia mempersepsikan bau yang tidak sesuai dengan kenyataannya," kata dr Anton, dikutip dari laman resmi UGM.
Misalnya, membau bunga mawar seharusnya harum, tetapi pasien mempersepsikan dengan bau yang lain seperti bau tidak enak atau bau lainnya. Dokter Anton menjelaskan persepi bau yang muncul akibat parosmia beragam, hal itu berbeda dengan gangguan penciuman cacosmia yang membuat seseorang membau tidak enak secara terus menerus.