Proses inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi pembuat bubur. Awalnya bubur kampiun juga dijajakan di luar bulan Ramadan.
Tetapi tingkat kesulitan pembuatannya yang cukup tinggi, harga bahan baku yang perlahan merangkak naik, dan sedikitnya peminat bubur manis khas Sumatera Barat ini, mengakibatkan jumlah kedai atau warung khusus bubur kampiun juga berkurang. Kalaupun masih ada yang membuat, tidak lebih sebagai bentuk pelestarian makanan tradisional agar tetap eksis.
Uniknya, saat Ramadan tiba menu bubur kampiun selalu muncul dan menjadi primadona, baik di tempat asal lahirnya maupun di luar daerah, termasuk pasar-pasar makanan Ramadan di Jakarta.
(Dewi Kurniasari)