Siapa yang berisiko mengalami masalah hipersomnia?
Mereka yang sering merasa capek di siang hari paling berisiko mengalami hipersomnia. Kondisi ini termasuk mereka yang mempunyai riwayat apnea tidur, kondisi ginjal, kondisi jantung, kondisi otak, depresi atipikal, dan fungsi tiroid yang rendah.
Secara khusus, American Sleep Association menyatakan bahwa pria lebih banyak yang mengalami hipersomnia dibanding perempuan. Salah satu faktornya karena pria kebanyakan perokok dan peminum yang mana dua kelompok itu pun masuk ke dalam kelompok berisiko hipersomnia.

Lalu, bagaimana pengobatan hipersomnia?
Banyak obat yang ditujukkan untuk narkolepsi dapat juga dipakai untuk mengatasi hipersomnia, termasuk amfetamin, methylphenidate, dan modafinil. Obat-obatan ini adalah stimulan yang membantu Anda merasa lebih terjaga alis membantu Anda lebih lama melek.
Perubahan gaya hidup juga penting dilakukan. Dokter biasanya akan merekomendasikan pasien hipersomnia untuk mengubah jam tidur. Diminta juga untuk menghindari aktivitas tertentu juga dapat dimasukkan sebagai upaya pengobatan.
Disarankan juga pasien hipersomnia untuk tidak mengonsumsi alkohol. Tidak hanya itu, mengatur asupan makanan pun akan disarankan untuk menjaga tingkat energi secara alami.
Menjadi catatan di sini bahwa hipersomnia tidak dapat dicegah. Namun, Anda dapat menurunkan risiko dengan menciptakan lingkungan tidur yang damai dan jauhi alkohol, hindari obat-obatan yang menyebabkan kantuk, dan hindari bekerja hingga larut malam.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.