Selain untuk meningkatkan kompetensi diri, kemampuan berbahasa asing bagi pelaku pariwisata ini juga dapat membantu mereka memperoleh informasi tentang karakteristik wisatawan, target pasar, dan perkembangan tren wisata melalui dunia digital.
“Dalam situasi pandemi ini, akan banyak perubahan besar terkait keinginan dan kebutuhan para wisatawan dalam berkunjung ke suatu destinasi wisata. Karenanya, dengan bahasa asing, pelaku pariwisata akan lebih siap dalam memberikan pelayanan yang lebih berkualitas dan sesuai harapan wisatawan,” kata Cecilia.
Sebanyak 150 orang peserta dinyatakan lolos dari 550 orang yang mendaftar dan telah dibagi menjadi 17 kelas sesuai hasil uji penempatan dengan level yang berbeda-beda.
Baca juga: Dear Traveler, Ini Bedanya Suasana Nyepi di Rumah dengan Hotel di Bali
Para peserta merupakan perwakilan dari pelaku pariwisata yang sebagian besar bekerja sebagai pemandu wisata, pengelola homestay, dan pengelola desa wisata/anggota kelompok sadar wisata.
Pelatihan ini akan dilaksanakan pada Mei hingga Juni 2021, dengan pembelajaran materi melalui Learning Management System (LMS) dan praktik melalui tatap muka dengan tutor profesional secara virtual, serta post test di akhir untuk mengukur capaian pembelajaran.
Selama mengikuti rangkaian pelatihan ini, peserta akan dimonitor dan didampingi oleh para fasilitator lokal yang ada di daerahnya masing-masing.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.