MASALAH stunting masih dihadapai penduduk Indonesia. Di tengah pandemi Covid-19 ini diakui bahwa penuntasan stunting mengalami keterbatasan.
Sebagai solusi, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Sekretariat Wakil Presiden Suprayoga Hadi mengatakan, saat ini, Indonesia terus mendorong konvergensi program penurunan stunting dari pusat hingga tingkat desa. Dengan sasaran rumah tangga pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Kami tidak akan setengah-setengah dalam menuntaskan persoalan ini (stunting-red). Segala daya upaya akan kami kerahkan untuk menurunkan angka stunting ke level 14 persen di tahun 2024 mendatang,” ungkapnya dalam acara Global Forum Human Capital Project 2021.
Suprayoga menyebut, stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktivitas. Dampak ke depannya juga akan menghambat pertumbuhan ekonomi, sekaligus meningkatkan kemiskinan.
“Stunting harus segera diatasi. Apalagi mulai 2030 Indonesia akan menghadapi bonus demografi. Jika tidak ditangani dengan baik, maka akan menjadi ancaman besar bagi bonus demografi tersebut. Indonesia harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya bonus demografi itu,” imbuhnya.
Keseriusan Indonesia dalam menuntaskan stunting, sebut Suprayoga, ditunjukkan melalui komitmen pemerintah untuk menurunkan angka stunting. Dari 27,7% di 2019 menjadi 14% di 2024.
Didukung juga dengan peningkatan alokasi pendanaan yang terdesentralisasi ke daerah dan desa. Langkah ini ditujukan untuk mempercepat upaya penurunan stunting di Indonesia hingga level desa.