Dilanjutkan perdagangan manusia dan eksploitasi 149 kasus, bidang sosial dan anak dalam situasi darurat 128 kasus, hak sipil dan partisipasi 84 kasus, serta kesehatan dan napza 70 kasus. Sementara itu, kasus perlindungan anak lainnya sebanyak 1.011.
Menurut Rita, ada data yang sudah tidak dapat ditampung dalam klaster keluarga dan dibutuhkan pembaharuan atau jenis klaster lainnya.
Lebih lanjut, tingginya klaster kasus dalam keluarga mencerminkan kondisi kedua orangtua. Sehingga berdampak besar terhadap anak.
"Anak menjadi yang tak terpisahkan di situasi pandemi, dan merasakan dampak ekonomi, serta psikologis tentang adanya pandemi dan kondisi ini berdampak terhadap kehidupan anak," pungkasnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)