KEMENTERIAN Perhubungan (Kemenhub) memulai penggunaan alat deteksi Covid-19 berbasis napas karya anak bangsa, GeNose, di terminal dan stasiun kereta api. PT Kereta Api Indonesia (Persero) pun terpantau mulai membuka layanan GeNose di waktu tersebut.
Di stasiun kereta api, layanan GeNose tersebut menjadi salah satu opsi persyaratan bagi para penumpang kereta api jarak jauh. Untuk tahap awal, GeNose ditempatkan di empat stasiun yaitu Stasiun Gambir dan Pasar Senen di Jakarta, Stasiun Solo Balapan, dan Stasiun Tugu Yogyakarta.
Namun, Ahli Epidemiolog Griffth University Australia, Dicky Budiman menilai, penggunaan GeNose untuk populasi umum itu salah sasaran.
"Jika merunut dari data studinya, GeNose itu diuji untuk pasien rumah sakit, bukan populasi umum. Jadi, kalau mau dipakai, ya, di rumah sakit, bukan di terminal atau tempat umum lainnya," kata Dicky saat diwawancarai MNC Portal melalui pesan singkat.
Melihat lokasi pengambilan sampel di ruang terbuka pun membuat Dicky khawatir akan terjadinya penyebaran virus yang semakin luas. "Saat pengambilan sampel, itu dilakukan di ruang terbuka dan orang harus lepas masker, ini berbahaya sekali karena Covid-19 terbukti menyebar lewat udara," tegasnya.
Jika berkaca pada skrining Covid-19 dengan napas yang dilakukan di negara Eropa, sampel diambil bukan di ruang terbuka seperti yang bisa dilihat bersama di terminal atau stasiun Indonesia.
"Kalau di Eropa itu, memang ada skrining dengan napas, tapi diambilnya di lab kecil yang dibuat khusus dengan tekanan negatif, sehingga udara enggak kemana-mana. Intinya, jangan di ruang terbuka, itu berbahaya sekali," sambungnya.
Dicky pun mengimbau agar pemerintah tak terburu-buru mengambil tindakan untuk menerapkan GeNose sebagai alat skrining Covid-19. Sebab, alat buatan anak bangsa tersebut sejatinya belum sampai pada titik finish uji klinis.
"Alat itu masih diuji, meski sudah dapat izin penggunaan darurat, tapi masih perlu penelitian lebih lanjut untuk sampai akhirnya bisa dipergunakan masyarakat luas," paparnya.
Ia pun khawatir bahwa GeNose itu akan menciptakan 'false negative' yang besar sekali. Sebab, sekali lagi alat tersebut uji klinisnya dilakukan di rumah sakit bukan untuk populasi umum. Sehingga, pengujian pada orang tanpa gejala atau bergejala ringan itu tidak terdata.
"Alat GeNose itu belum matang secara ilmiah. Mungkin di 'paper' potensial sekali, tapi kalau untuk diterapkan di masyarakat, saya rasa sebaiknya jangan dulu. Pemerintah saya sarankan tahan dulu penggunaan alat ini sampai hasil uji klinisnya benar-benar final," ujarnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.