KAREN Hobbs, ibu dari lima anak meninggal karena virus corona pada 19 Januari. Mantan pramugari berusia 40 tahun tersebut sebelumnya sempat mengunggah pesan terakhirnya di laman Facebooknya.
“Saya mungkin tidak akan berhasil,” tulisnya dilansir Okezone dari News Australia.
Wanita cantik asal Inggris tersebut terkonfirmasi positif Covid-19 sebelum Natal dan dilarikan ke rumah sakit pada 27 Desember. Kematian Karen Hobbs tersebut terjadi hanya beberapa minggu setelah dinyatakan positif virus corona.
Meski sebelumnya bugar dan sehat, kondisi Karen Hobbs dengan cepat memburuk dan dia mengalami koma.
Baca Juga: Kisah Pramugari Antar Makanan ke Penumpang Tak Kasat Mata di Kursi 22A
Mantan pramugari EasyJet itu jarang meninggalkan rumah selama pandemi. Namun tidak jelas penyebabnya, bagaimana dia tertular virus corona, karena ia sudah tidak lagi mengudara.

Keluarganya yang dilanda kesedihan telah berbicara seminggu setelah kematiannya untuk mendesak orang-orang agar mematuhi aturan lockdown.
Rachel Hobbs, saudara perempuan Karen, mengatakan, selama beberapa hari pertama Karen Hobbs di rumah. "Pada dasarnya dia tidak bisa melakukan apa-apa, dia di tempat tidur, tidak punya energi," ungkap Rachel.
“Saya pikir dia akan pingsan karena batuk dan napasnya. Anda melihatnya di TV saat mereka menggunakan oksigen dan segalanya, tetapi berbeda saat seseorang di depan Anda melakukannya. Ini mungkin hal terburuk yang pernah saya saksikan,” tambahnya.
Unggahan menghantui yang dibagikan oleh Karen di Facebook memberikan gambaran sekilas tentang kehidupan dalam perawatan intensif Covid-19 setelah ia dilarikan ke University Hospital of Wales.
"Saya dipulangkan dari rumah sakit tadi malam hanya untuk menelepon ambulans karena saya tidak bisa bernapas lagi jadi kembali ke rumah sakit, nyatanya Covid-19 benar-benar menginfeksi!" tulis Karen di salah satu postingannya pada 18 Desember.
Unggahan lain dua hari kemudian menyebutkan “Wanita di tempat tidur di seberang saya baru saja meninggal di depan saya karena Covid-19," kata dia.
Pada malam tahun baru, Karen juga menggambarkan bagaimana ia berjuang melawan Covid-19. Ia juga membalas komentar baik dari orang-orang.
"Saya tidak bisa terus duduk dan mengirim pesan," ungkapnya.
Baca Juga: Pramugari Aldha Refa Pakai Baju Okky Bisma: Berasa Kamu Peluk, Pih!
“Divonis koma dan diperingatkan bahwa saya mungkin tidak akan berhasil, tolong semua orang berdoa untuk saya agar saya bangun dari sini dan pulang ke anak-anak saya. Ketakutan bukanlah kata yang tepat!” tulis Karen di laman Facebook untuk terakhir kalinya.
Lalu Rachel menjelaskan bahwa keluarganya dipanggil tim dokter dan mengabarkan bahwa saudara perempuannya itu meninggal dunia. Karena terinfeksi Covid-19, Karen meninggal akibat komplikasi kegagalan fungsi organ.
“Kami baru saja terkejut. Kami hanya berpikir dia akan masuk dan keluar dari rumah sakit dalam beberapa minggu dan dia akan menjadi lebih baik," kata Rachel.
Menurut Rachel, Karen adalah orang yang sangat taat akan aturan lockdown Covid-19 dan jarang keluar rumah.
“Dia tidak keluar, dia berbelanja online. Saat lockdown, saya biasa berkeliling dan melambai kepada anak-anak dari taman atau berdiri di luar dan dia akan membuka jendela dan saya akan berdiri dan berbicara dengannya melalui jendela,” tambahnya.
Sebagai penghormatan kepada adik perempuannya, Rachel menyebut bahwa Karen adalah ibu yang baik, karena selalu menemani anak-anaknya belajar dan bermain selama berjam-jam.
“Teman-temannya mengatakan dia memiliki hati yang besar. Dia selalu ada untuk semua orang," pungkasnya.
(Dewi Kurniasari)