Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Fakta-Fakta Coronasomnia, Sulit Tidur Akibat Pandemi Covid-19

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 28 Januari 2021 |07:42 WIB
Fakta-Fakta Coronasomnia, Sulit Tidur Akibat Pandemi Covid-19
Ilustrasi coronasomnia di masa pandemi covid-19. (Foto: Familydoctor)
A
A
A

Banyak faktor yang berperan. Pertama, rutinitas dan lingkungan kita sehari-hari telah terganggu, sehingga sulit untuk menjaga ritme sirkadian kita bekerja seperti waktu normal.

Biasanya hari-hari kita berjalan sesuai jadwal. Ada perjalanan pulang pergi ke kantor, waktu istirahat dan waktu tidur, tetapi covid-19 telah mengganggu semua itu.

Baca juga: Pulih dari Covid-19, Banyak Pria Keluhkan 'Senjatanya' Susah Berdiri 

"Kita kehilangan banyak petunjuk eksternal yang ada dalam rapat kantor, juga jadwal istirahat makan siang," kata Altchuler, "Apa yang Anda lakukan (selama bekerja jarak jauh) mengganggu jam tubuh Anda."

"Otak Anda sebelumnya sudah terbiasa: Anda bekerja di tempat kerja, lalu ketika Anda di rumah berarti Anda sedang bersantai. Ada perbedaan di sana."

"Sekarang, kita semua di rumah setiap saat," kata Angela Drake, profesor kesehatan klinis di University of California, Davis, yang merawat pasien dengan gangguan tidur dan yang menulis tentang coronasomnia.

Dia juga menandai fakta bahwa ketika seseorang bekerja dari rumah, mungkin kurang berolahraga dan berpotensi lebih sedikit terpapar cahaya. Keduanya berpengaruh pada kualitas tidur.

Ilustrasi covid-19. (Foto: Ubergizmo)

Ada juga masalah kinerja. Angka pengangguran di banyak negara adalah yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, jadi tidak mengherankan jika mereka yang bekerja ingin bekerja keras untuk mempertahankan pekerjaan mereka.

Masalahnya, bekerja dari rumah dapat mengaburkan batas-batas yang sebelumnya telah diatur dan banyak orang melaporkan mereka bekerja lebih lama atau di jam-jam yang tidak teratur.

"Kita cenderung melihat batasan yang kurang jelas antara rumah dan kantor," kata Altchuler, "Orang-orang cenderung begadang (karena pekerjaan)."

Banyak orang kesulitan meninggalkan "pekerjaan di tempat kerja" saat ini. Ditambah lagi fakta merindukan hobi dan teman-teman yang penting untuk relaksasi dan menghilangkan stres.

Banyak orang mengalami masalah kesehatan mental yang dapat menyebabkan masalah tidur atau sebaliknya. Rasa ketidakpastian dan kurangnya kendali juga dapat menyebabkan masalah tidur, sedangkan periode pandemi yang panjang juga merupakan faktor.

"Awalnya, orang cenderung merasa termotivasi untuk melewati stres (saat pandemi). Tapi karena pandemi terus berlanjut dari waktu ke waktu, kebanyakan orang menjadi kurang mampu mengatasinya, mengakibatkan masalah yang lebih besar, termasuk insomnia," kata Dr Drake.

Baca juga: Bupati Sleman Positif Covid-19, Bukti Orang yang Sudah Divaksin Tidak Langsung Kebal 

Ia menambahkan, beberapa masalah tidur akan menjadi "kronis dan bertahan lama" karena pandemi telah membuat sejumlah orang kesulitan mengakses pengobatan; orang cenderung hanya mencari bantuan medis dalam keadaan darurat, sementara beberapa fasilitas kesehatan kekurangan staf atau kewalahan dengan pasien covid-19.

Faktanya, petugas kesehatan sangat terpukul oleh insomnia selama 12 bulan terakhir. Pada bulan Desember 2020, Universitas Ottawa menganalisis 55 studi global terhadap lebih dari 190.000 peserta untuk mengukur kasus insomnia, depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) sejak awal pandemi.

Semua gangguan meningkat setidaknya 15 persen di antara petugas kesehatan, dan insomnia mengalami lonjakan terbesar hampir 24 persen.

Altchuler menunjukkan bahwa insomnia "umumnya dikaitkan dengan PTSD", dan apakah Anda seorang pekerja garis depan atau bukan, insomnia biasanya meningkat setelah peristiwa besar dan negatif di dunia.

Secara umum, setiap kali seseorang mengalami trauma, apakah itu keadaan darurat kesehatan yang meluas seperti covid-19, bencana publik seperti 9/11, atau sesuatu yang lebih individual seperti kecelakaan mobil, mereka dapat mengalami masalah tidur terus-menerus yang beriringan dengan PTSD.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement