Penyebab kondisi ini akibat produksi urine di malam hari yang seharusnya dikurangi akivitas hormon arginin vasopresin malah tidak terjadi sehingga produksi urin tetap tinggi sementara kapasitas kandung kemih relatif kecil.
Pada 2/3 anak enuresis, kadar hormon yang bertugas menyerap kembali air di ginjal sehingga produksi urine menurun ini rendah pada malam hari.
Baca juga: Waspada, Nokturia Dikaitkan dengan Diabetes Mellitus
"(Penyebab lainnya) bisa juga karena (kandung kemih) sensitif dan faktor lain seperti ketidakmampuan anak bangun di malam hari saat kandung kemih penuh," ucap Irfan.
Di sisi lain, riwayat keluarga dengan masalah serupa, konstipasi, infeksi saluran kemih, kapasitas kandung kemih yang kecil, ansietas, gangguan tidur, ganggu psikologi dan diabetes juga bisa menjadi penyebab lain dan faktor risiko.
Di Indonesia kejadian enuresis, menurut data Perkumpulan Kontinensia Indonesia (PERKINA), pada 2008 menujukkan angka 2,3 persen dengan perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan 2:1.
Baca juga: Intervensi Gaya Hidup untuk Mencegah Nokturia
Apa dampak enuresis pada anak? Irfan mengatakan, anak bisa menurun rasa percaya dirinya, menarik diri dari lingkungan karena merasa minder masih mengompol, mengalami gangguan tidur akibat merasa tidak nyaman mengompol dan berpotensi mengalami gangguan pada kesehatannya.
"Enuresis yang terjadi pada anak kurang dari 5 tahun masih dalam keadaan normal. Jika usia telah lebih dari 5 tahun segera berobat ke dokter," pungkasnya.
(Hantoro)