Saat ini, di Pacitan sudah ada 19 objek wisata yang sudah bisa menerima wisatawan. Dari jumlah ini, sembilan lokasi dikelola oleh pemkab dan sisanya dikelola pemerintah desa dan swasta.
"Kami memang mendorong destinasi wisata di Pacitan berbasis masyarakat. Hal ini sangat bisa membantu pertumbuhan ekonomi desa," kata Andi.
Menurutnya, secara keseluruhan sektor pariwisata sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Sekarang ini sektor wisata menjadi penyumbang PAD nomor dua setelah rumah sakit dan yang pertama dari sisi pemanfaatan.
Pada tri wulan pertama 2020 ini, PAD wisata mampu mencapai angka 32 persen dari target 25 persen dari total target pendapatan Rp16,5 miliar.
Baru pada akhir Maret terjadi pandemi Covid-19 yang berdampak pada seluruh sektor kehidupan. Banyak yang harus tutup, demi mencegah penyebaran Covid-19.
"Hampir tujuh bulan kami menutup obyek wisata. Kami baru mulai melakukan simulasi pembukaan pada 28 September 2020. Sebelumnya, objek wisata dan pendukungnya harus melalui tahapan pra simulasi. Pada tahapan ini, pengelola objek wisata dan pendukungnya seperti restoran dan hotel harus memeroleh protokol kesehatan berdasarkan standar dari Kementerian Kesehatan dan juga Kemenparekraf," ujar Andi.
(Rizka Diputra)