Aktivitas barunya membawa berkah. Dari situ dia berpikir untuk menciptakan produk baru yang bisnisnya dia urus dari hulu ke hilir.
Lahirlah camilan-camilan baru yang bahannya berasal dari perkebunannya sendiri. Lagipula, camilan merupakan salah satu produk yang digemari pembeli di Krisna.
"Kacang ditanam selama tiga bulan, panen bulan Juli delapan hektare, sekarang Krisna bikin produk baru, produksi kacang kapri, bakpia, pie susu, pia kukus. Saya jadi punya produk Covid baru," tutur dia.
Krisna juga semakin gencar berjualan secara daring, meski jumlahnya belum menyamai besaran penjualan langsung di toko karena orang biasa berbelanja untuk oleh-oleh selepas berlibur. Namun setidaknya Covid-19 membuahkan varian baru untuk bisnisnya.
Sekretaris Umum Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia Jaya, Purnawijaya menuturkan beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pelaku wisata untuk merebut kembali kepercayaan masyarakat.
Di antaranya adalah mendapatkan sertifikasi Clean, Health, Safety & Environment (CHSE) atau Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan. Sertifikasi ini berfungsi sebagai jaminan kepada masyarakat bahwa pelayanan yang mereka berikan sudah sesuai dengan protokol yang diwajibkan.
Sertifikasi ini membuat wisatawan bebas dari rasa was-was dan lebih yakin untuk memilih layanan tersebut. "Jangan lupa berpromosi di media sosial," imbuh Jaya.
Promosi melalui media sosial juga dinilai efektif karena banyak wisatawan yang mencari referensi untuk berlibur melalui dunia maya. Ulasan positif hingga foto menarik bisa jadi konten yang membuat wisatawan tergiur untuk berlibur ke sana.
Kisah-kisah pelaku industri wisata, termasuk di subsektor kuliner, dari Labuan Bajo dan Bali itu membuktikan bahwa di antara kesulitan pasti ada peluang, dan beradaptasi dengan dunia digital adalah salah satu solusi mujarab untuk bertahan di tengah pandemi.
(Rizka Diputra)