“Kesannya seru. Hawanya adem, suasananya beda dengan Kalimantan Tengah. Ini luar biasa konsepnya. Kalau untuk kulinernya tadi saya pesan nasi bakar sama gorengan. Sebenarnya pesanan (menu) biasa saja, tapi kalau rasanya itu jangan ditanya lagi, luar biasa!” ucapnya.
Angkringan Tenda Villa Pinus itu diinisiasi oleh sekelompok pemuda. Mereka mencoba bangkit untuk memulihkan perekonomian, setelah terpuruk dihantam pandemi Covid-19. Sebab, sebelumnya area perkemahan (camping ground) dan outbond yang mereka harus berhenti beroperasi.
Aset 50-an tenda dome dan perlengkapan outbond dibiarkan mangkrak di dalam gudang. Persoalan lain tidak ada sumber pendapatan, padahal mereka mesti memenuhi kebutuhan keluarga. Hingga muncul ide membuat wisata kuliner dengan konsep angkringan agar harganya terjangkau bagi masyarakat.
“Setelah pemerintah mulai memberikan izin untuk membuka usaha lagi, kita berpikir mulai usaha baru tapi tetap memanfaatkan aset yang ada. Kita punya tenda, ada lahan luas, lalu muncul ide, kenapa kita enggak buat angkringan dengan menerapkan protokol kesehatan?” kata pengelola Angkringan Tenda Villa Pinus, Budi Susilo.
“Pastinya dengan jarak yang berjauhan supaya physical distancing juga tercapai. Menunya sama dengan angkringan biasanya, tapi dengan keunikan dengan konsep yang kami punya pasti akan menarik perhatian banyak orang,” ucapnya yakin.
Mereka mulai menyulap area perkemahan itu menjadi kawasan kuliner. Lampu-lampu dipasang di beberapa tempat. Tenda lengkap dengan tikar dan meja ditata sedemikian rupa agar memenuhi protokol kesehatan, sesuai anjuran pemerintah.
“Lalu kita foto-foto dan unggah di media sosial Instagram dan Facebook. Untuk yang makan awal dulu itu ya keluarga kita sendiri. Jadi masing-masing mengajak istri dan anak-anak, lalu foto. Responsnya luar biasa, kita beberapa kali viral,” katanya bangga.
Angkringan ini pun tak hanya ramai di jagat maya, tetapi juga menarik perhatian pelanggan dari berbagai daerah. bahkan saking banyaknya pengunjung, pihak pengelola angkringan memilih tutup pada akhir pekan untuk menghindari kerumunan massa.
“Luar biasa, kami sempat viral-viral terus. Kemudian juga sampai punya waiting list, tapi dengan viralnya hingga banyaknya pengunjung, kami juga mikir dampaknya (kerumunan pengunjung). Makanya kami buka Senin sampai Kamis. Jumat kita bisa libur,” jelasnya.
“Sabtu dan Minggu kita off, karena tamunya yang sudah sangat luar biasa. Kalau sudah luar biasa kan berarti penumpukan orang, dan itu akan menjadi sebuah perhatian. Kita memilih tutup agar tidak terjadi keramaian,” ungkapnya.
Keputusan tak beroperasi saat banyak pengunjung, bukan perkara mudah. Sebab jika dihitung secara materi akan menghasilkan keuntungan besar. Namun, mereka merasa turut bertanggung jawab agar Covid-19 tak semakin menyebar, apalagi hingga menjadi klaster baru.
“Memang banyak yang bilang gitu (merugi karena tutup), tapi mengelola berkat itu susah. Kami tidak mau hanya memikirkan berkat, hanya memikirkan income tapi kemudian jadi sesuatu hal di masa pandemi ini jadinya malah semakin susah (akibat penyebaran Covid-19),” tandas dia.