Di sisi lain, dalam laporan WHO ini dijelaskan bahwa tindakan pengujian yang diperluas memungkinkan negara-negara melacak dan mencegah virus terus menyebar antarorang. Selain itu, testing juga dilakukan untuk mempersiapkan peluncuran vaksin jika sudah tersedia.
"PCR Test yang hadir di awal wabah menyebar mengandalkan infrastuktur dan personel terlatih untuk melakukannya. Namun, Rapid Test dilakukan untuk mendeteksi keberadaan virus yang lebih cepat dan lebih murah. Ini tambahan testing yang penting untuk persenjataan pengujian yang diperlukan untuk mencegah dan melawan Covid-19," lapor WHO.

Selain fungsi di atas, WHO pun mengklaim Rapid Test diperlukan untuk membantu mengidentifikasi atau mengkonfirmasi wabah baru, mendukung investigasi wabah melalui penyaringan; pemantauan tren penyakit; dan berpotensi menguji kontak dekat para pasien tanpa gejala (OTG).
"Perjanjian ini sangat penting untuk memenuhi tujuan utama ACT-Accelerator yaitu untuk memastikan semua negara, terlepas dari pendapatannya, memiliki akses yang adil atas tes dan alat baru untuk memerangi Covid-19," tambah laporan tersebut.
Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan bahwa Rapid Test ini sangat penting untuk mencari keberadaan virus di tengah masyarakat. Dengan pelacakan yang cepat, diharapkan tindakan isolasi kontak dekat bisa segera dilakukan dan penyebaran virus bisa dihentikan.
"Rapid Test berkualitas tinggi menunjukkan kepada kita di mana virus bersembunyi, yang merupakan kunci untuk melacak dan mengisolasi kontak dekat dengan cepat, serta memutus rantai penularan. Test ini pun penting bagi pemerintah yang ingin ekonominya membaik, sejalan juga dengan upaya menyelamatkan nyawa manusia," kata Dr Tedros.
Selain Tedros, beberapa tokoh penting dalam organisasi ACT-Accelerator pun menyampaikan pandangannya terhadap perjanjian ini. Satu benang merah mereka yaitu dengan adanya Rapid Test ini diharapkan bisa membantu negara-negara melacak Covid-19 dengan cara yang murah dan cepat.
Sementara itu, Direktur Laboratorium Mikrobiologi Klinis di Vanderbilt University Medical Center, dr. Romney Humphries, Ph.D, beranggapan bahwa Rapid Test memiliki akurasi deteksi 75-80 persen. Sedangkan PCR Test, akurasinya bisa mencapai 90-95 persen. Ini yang menjadi kekurangan dari Rapid Test Covid-19.
Karena itu, menjadi sebuah fakta ketika hasil Rapid Test Covid-19 menyatakan non-reaktif tetapi sejatinya di dalam tubuh pasien terdapat virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19.
"Kemampuan Rapid Test untuk mengidentifikasi dengan benar mungkin tidak selalu relevan secara klinis. Ini bisa terjadi karena tingkat virus di dalam tubuh seseorang sangat rendah, sehingga tak 'terbaca' Rapid Test," paparnya dikutip dari New York Post.
Tingkat virus yang rendah ini maksudnya adalah kondisi saat pasien baru mulai terpapar virus sehingga infeksi yang terjadi belum begitu parah. "Saat virus sudah mereplikasi menjadi semakin banyak, di situlah dikatakan tingkat viral load tinggi," terang dia.
Dengan fakta tersebut, dr Humphries pun mengkhawatirkan potensi terjadinya penyebaran virus yang lebih masif karena status 'bebas corona' yang tak valid dari Rapid Test Covid-19.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.