Selain mempertahankan Selat Malaka dari rebutan Portugis, Iskandar Muda tercatat juga pernah menaklukkan Kerajaan Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, Minangkabau, Perak dan Nias dari 1612 hingga 1625.
Berhasil menundukkan Kerajaan Pahang, Iskandar Muda ikut menikahi putri mahkota kerajaan itu yang bernama Kamaliah. Perempuan jelita itu kemudian dibawa ke Aceh dan dikenal dengan nama Putroe Phang alias Putri Pahang.
Dia membangun Gunongan atau gunung buatan dan taman sari di area Istana, untuk mengobati rasa rindu permaisurinya akan kampung halaman.
Saat berkuasa, Iskandar Muda menjalin hubungan bilateral yang baik dengan negara-negara Eropa seperti Inggris, Belanda, Perancis, serta negara-negara Islam serupa Turki, Persia (Iran), India dan lainnya.
Dia pernah mengirim surat kepada Raja Inggris, James I tahun 1615 untuk menunjukkan kepada dunia betapa pentingnya Aceh sebagai salah satu negeri berdaulat dan kekuatan international saat itu. Surat fenomenal ditulis tangan dengan sastra yang indah itu kini dipajang di Museum Aceh.
Masa kepemimpinannya, Aceh menjadi menjadi pusat peradaban Islam, banyak orang dari nusantara dan negara-negara tetangga belajar ilmu agama ke sana. Sebuah pendidikan tinggi yang mengkaji berbagai ilmu pernah berdiri di Masjid Raya Baiturrahman.
Sejarah mencatat Kerajaan Aceh saat itu masuk dalam lima besar kerajaan Islam terbesar dan terkuat di dunia abad 16, bersama Kesultanan Ottoman Turki, Kesultanan Syafawiyah di Persia, dan Kesultanan Moghul di India. Disegani sebagai negara berdaulat secara budaya, militer, pendidikan dan perekonomian.
Iskandar Muda juga tak pandang bulu menegakkan hukum. Dia pernah menghukum mati putranya sendiri, Meurah Pupok, karena melanggar syariat Islam dan aturan kerajaan. Meurah Pupok dikebumikan di halaman Istana yang sekarang masuk area kuburan serdadu Belanda, Kherkof.
Kata-kata Iskandar Muda yang diungkapkan kala itu yakni "gadoh anuek meupat jeurat, gadoh adat pat tamita (hilang anak tahu makamnya di mana, hilang adat tidak tahu harus cari di mana)" kini menjadi peribahasa yang terus diagungkan di Aceh.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasa besarnya, pemerintah Indonesia memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Iskandar Muda dan tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana, pada 14 September 2014.
Nama besar Sultan Iskandar Muda kini ditabalkan di Kodam dan bandara terbesar di Aceh, serta jalan di beberapa kota di Indonesia termasuk Jakarta.
(Salman Mardira)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.