Awal pekan ini masyarakat dihebohkan dengan kabar mengenai mutasi virus corona D614G yang disebut 10 kali lebih menyebar dari virus sebelumnya. Virus corona baru ini muncul dalam sampel pasien Covid-19 yang ada di Indonesia. Tentunya hal ini semakin mengejutkan dan semakin membuat takut masyarakat.
Tingginya rasa penasaran masyarakat yang menanyakan tentang kebenaran mengenai virus corona D614G ini membuat Kepala Lembaga Biologi Molekuler Lembaga Eijkman, Prof. Amin Soebandrio, MD, PhD, Clin angkat bicara untuk menjelaskan tentang hadirnya virus corona dengan tipe D614G yang viral pekan ini.

“Saat di tes di lab, ternyata mutan D614G ini memiliki kecepatan menginfeksi manusia melebihi virus sebelumnya. Proses ini diamati di lab, dan bukan penularan pada manusia. Jadi pernyataan lebih cepat menular dan membuat kasusnya lebih berat, belum ada bukti ilmiah yang bisa membuktikannya,” terang Prof. Amin, dalam Digital Media Briefing ‘Dukungan untuk Percepatan Penelitian Vaksin COVID-19’, Kamis (3/9/2020).
Baca juga: Pria Ini Alami Kebotakan karena Terlalu Sering Olahraga
Selain itu Peneliti LBM Eijkman, R. Tedjo Sasmono, PhD mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir jika nantinya virus corona mengalami mutasi. Sebab dengan adanya teknologi yang canggih yang dimiliki saat ini, maka virus baru tersebut bisa dengan mudah dideteksi dan dibuat vaksinnya.
“Walau nanti ada mutasi, selama kita punya teknologi untuk membuat vaksin, maka kita akan dengan mudah mengklon virus tersebut. Jadi sangat penting teknologi vaksin itu dikuasai oleh Indonesia. Sehingga kita tidak bergantung pada negara lain untuk mengantisipasi virus,” lanjutnya.
Terkait dengan ketersediaan vaksin Covid-19, Tedjo mengatakan, vaksin baru akan tersedia pada pertengahan sampai dengan akhir 2021.
Vaksin tersebut baru akan dirilis di pasar setelah mendapatkan hasil dari uji klinis yang dilakukan.
“Preklinis yang akan dilakukan oleh peneliti akan dipercepat ke mitra kami. Selain itu kami juga akan bekerjasama dengan BPOM, jadi selama pandemi fase uji klinis bisa dilakukan secara pararel sehingga bisa dipercepat,” tuntasnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)