Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ahli Tak Lagi Percaya Rapid Test Covid-19, Ada Apa?

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Selasa, 25 Agustus 2020 |19:06 WIB
Ahli Tak Lagi Percaya Rapid Test Covid-19, Ada Apa?
Ahli mulai ragukan rapid test (Foto : Wired)
A
A
A

Penggunaan Rapid Test Covid-19 sebagai skrining awal keberadaan virus corona di tengah masyarakat diragukan kembali oleh peneliti. Baru-baru ini, The Infectious Disease Society of America (IDSA) menerbitkan makalah ekstensif tentang pengujian serologis Covid-19.

Dalam laporan tersebut, para peneliti di organisasi itu menemukan fakta bahwa pengujian antibodi tidak cukup baik untuk menentukan kekebalan atau risiko infeksi ulang. Ada anggapan juga bahwa antibodi bisa larut dalam darah dan karena itu, pengujian antibodi dinilai tak penting.

"Tes antibodi ini tidak dapat menginformasikan keputusan untuk menghentikan jarak fisik antar orang atau mengurangi seseorang untuk menggunakan alat pelindung diri," tulis laporan IDSA, menurut New York Post.

Rapid Test

Dari penjelasan tersebut, bisa dimaknai bahwa Anda kurang beruntung jika Anda mencoba untuk menentukan apakah penyakit flu pada Februari lalu itu benar-benar Covid-19. Terlebih, implikasi lainnya adalah bahwa apa yang disebut 'kekebalan' itu tidak ada.

Baca Juga : Pakai Bikini di Labuan Bajo, Mesranya Awkarin Dipeluk Pacarnya dari Belakang

Jika pengujian antibodi saat ini tidak cukup baik untuk membuktikan seseorang mengidap Covid-19, maka tes itu tidak dapat digunakan untuk mengeluarkan dokumentasi apapun yang bisa menjelaskan hal lanjutannya.

"Faktanya, Rapid Test dipilih banyak rumah sakit untuk dapat cepat memeriksa kekebalan Covid-19 sekarang ini," tulis peneliti. Terkait itu semua, PCR Test masih jadi pengujian yang efektif menentukan apakah seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak.

Hal yang menjadi kekurangan dari Rapid Test adalah kekhawatiran tes hanya mampu mengenali antibodi dari virus yang baru terdeteksi, tetapi melewati pasien lama yang sudah terinfeksi paru-parunya. Oleh karena itu, penelitian semacam itu akan selalu menghasilkan persentase imunitas yang lebih rendah dalam komunitas.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement