Perjalanan dilanjutkan saat masuk tanjakan ada dua pondok persinggahan yang dibangun oleh Dinas Pariwisata. “Itu untuk tempat santai tempat istirahat sambil memandang laut dan pantai Padang,” ungkap Slamet.
Kemudian saat memulai tanjakan akan ada batu-batu yang dibuat sebagai tempat duduk-duduk. Untuk sampai di puncak ada sebanyak 300 jenjang akan dilewati. Tapi tenang kondisi jalan menuju ke puncak itu kondisinya bersih.
Di posisi 15 meter menjelang puncak atau Taman Siti Nurbaya akan ditemukan batu besar. “Biasanya batu besar dengan ketinggian 15 meter ini dipakai para pencinta alam untuk memanjat tebing, mereka itu rata-rata mahasiswa ada dari Universitas Negeri Padang, ada pula dari Universitas Andalas dan perguruan tinggi lainnya yang sering memanjat batu ini,” tutur Slamet.
Kemudian 10 meter menjelang puncak akan ada tulisan Dinas Pariwisata Makam Siti Nurbaya. Kalau menuju kesana akan masuk cela-cela batu besar tersebut dan menurun kemudian ada makam sudah memakai nisan dan semen dicat putih, diatas makam tersebut ada kayak kelambu warna putih yang sudah kusam. “Makam itu sebenarnya tidak tahu cerita awalnya, tapi masyarakat percaya itu makam Siti Nurbaya, tapi tidak mungkin ada makam di atas batu,” tutur Slamet.

Warga yang berkunjung Bukit Siti Nurbaya ada yang berziarah di makam tersebut, mereka minta wangsit dan rejeki. “Dulu saat masih zaman musim judi togel banyak warga yang datang ke makam itu untuk minta nomor sama penghuni disini, tapi entah dapat entah tidak,” terangnya.
Menurut cerita dari warga setempat Syahbudin Abas (42), warga sekitar tersebut mengakui dulu sering mendampingi para peziarah untuk ke makam. Dia menceritakan, dulu peziarah yang datang ke makam tersebut bukan hanya satu atau dua orang, sesekali ada rombongan yang datang. Salah satu waktu yang diminati yakni menjelang hari raya Idul Adha.
“Dalam seminggu itu pasti ada orang yang datang bersemedi ke makam, tidak hanya dari Padang di luar Padang juga ada yang datang, seperti Medan bahkan dari Jawa juga ada yang sampai ke sini,” ujarnya.
Mereka umumnya melakukan ritual pertapaan selama 1 hari hingga 2 minggu. Mereka percaya jika ritual tersebut dilakukan, maka keinginannya untuk menjadi orang sukses akan terwujud. “Ada yang minta kaya, minta anak, minta kelulusan banyaklah. Kita kan tidak tahu apa tujuan mereka, yang jelas kita hanya mengantarkan mereka ke makam,” tuturnya.
Biasanya kalau ada yang terpenuhi cita-citanya akan kembali ke makam untuk menunaikan nazarnya. “Kelambu itu bukan warga sini yang memberikan tapi orang yang terpenuhi nazarnya dan mereka memberikan kelambu di atas makam tersebut,” ujarnya.
Yang lebih mengherankan ada warga Sungai Limau, Pariaman, bernama Munir atau lebih dikenal Buyuang Katuang pernah datang ke kuburan Siti Nurbaya. Pria yang kerap disapa Bang Udin ini menjelaskan, Munir mengaku sebagai keturunan Siti Nurbaya. Namun dia tidak pernah lagi datang berziarah ke kuburan itu.
“Saat datang dia sudah sangat tua. Semenjak datang berziarah ke makam tersebut beberapa tahun lalu sampai saat ini tidak pernah datang lagi,” paparnya.
Namun yang paling mencengangkan cerita warga Padang Kapeh yang melakukan ritual sekira tahun 2000-an. “Dia bersemedi di makam itu selama dua minggu, mereka bertujuan bersemedi itu untuk mendapat mukjizat atau mendalami ilmunya. Namun setelah bersemedi ia mengatakan kepada saya bahwa yang bersemayam dalam kuburan itu bukan perempuan tetapi laki-laki,” ucap Bang udin panggilan akrab Syahbudin.
Bang Udin memang pernah mendapat kabar makam itu bukan kuburan Siti Nurbaya. Sebagian meyakini makam tersebut milik seorang Syekh dari Banten.
“Dulu kan tidak seperti ini, warga yang menemukan kuburan itu hanya berupa gundukan tanah dan memiliki dua batu mirip batu nisan. Setelah diperhatikan batu itu bertuliskan Syekh bukan Siti Nurbaya, namun setelah pemugaran makam tersebut nama yang sebelumnya ditulis itu sudah dihapus. Saya dapat info bahwa makam itu milik seorang Syekh dari Banten, dan keberadaan kuburan ini sudah ada pada tahun 1918 lalu,” ujarnya.
Setelah mengunjungi makam tersebut perjalan dilanjutkan, hanya beberapa menit saja maka akan sampai di puncak Gunung Padang atau Taman Siti Nurbaya. Beberapa orang baik pasangan ataupun keluarga ramai di lokasi tersebut. Dipuncak itu juga ada tulisan Padang Kota Tercinta dan baru dibangun dalam wujud neon box ukuran besar, namun beberapa bulan lalu huruf tersebut terbakar akibat konsleting.