Enam bocah berusia kisaran belasan tahun sambil bercanda turun dari Gunung Padang atau dikenal dengan Taman Siti Nurbaya ketinggian sekira 80 meter. Enam bocah itu tiga diantara membawa sepatu sepatu roda mereka bercanda.
Tak lama kemudian sepasang muda-mudi tampak tersengal-sengal saat menapaki jenjang beton untuk menuju ke puncak Gunung Padang tersebut. Tak lama kemudian dari arah bawa juga ada satu keluarga naik lagi mengarah ke Gunung Padang.
Gunung Padang ini sudah terkenal sejak dulu, apalagi di lereng Gunung Padang ini ada makam yang diklaim sebagai kuburan Siti Nurbaya seperti yang ditulis dalam novel Siti Nurbaya, Kasih Tak Sampai oleh Marah Rusli. Meski diragukan keberadaan makam tersebut namun sebagai warga mempercayai kuburan tersebut.
Gunung Padang ini terletak di Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat, posisinya tepat di pintu Muara Padang. Untuk menuju kesana harus masuk dengan membayar tiket Rp10 ribu untuk orang dewasa dan Rp5 ribu untuk anak-anak.
Saat masuk kesana awalnya akan melewati pemukiman masyarakat yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan, hal yang menarik rumah warga yang berdiri di lereng-lereng bukit tersebut dicat dengan warna-warni. Hanya sekira satu menit di lereng dekat pemukiman tersebut akan ditemukan bunker yang dijadikan sebagai benteng peninggalan Jepang.

Di dinding bunker tersebut tertulis bunker tersebut berupa benteng pilboks persegi empat, poligon, dan ada yang berukuran setengah lingkaran. Dibangun sekira tahun 1942-1945 oleh tentara Jepang, kemudian terdapat meriam besar sepanjang sekira 10 meter dalam bungker tersebut, arah meriam ke laut dengan warna hitam yang sudah berkarat dimakan usia.
Tak cukup informasi di dinding benteng saja Okezone.com mencari narasumber di lokasi wisata tersebut Slamet Sudarso, 72 tahun. Dia merupakan pensiunan pegawai Dinas Pariwisata Kota Padang.
Kepada Okezone.com, Slamet menuturkan dulu meriam itu masih lengkap dan bisa diputar-putar dan dinaikan, namun masih ada warga yang tidak bertanggung jawab mengambil peralatan bagian pangkal meriam sebagai alat menembaknya akhirnya tinggal meriamnya saja yang tidak bisa dicopot.
“Meriam itu fungsinya menghadang tentara Belanda yang masuk ke Muara Padang. Dipuncak Gunung tersebut ada empat bunker kecil sebagai pengintai musuh dari lautan,” tutur Slamet.
Baca juga: Pariwisata Raja Ampat Kembali Dibuka, Wisatawan Wajib Registrasi Online
Dibawah meriam tersebut atau dekat dengan air laut banyak batu-batu besar biasanya sering dijadikan tempat untuk memancing untuk mengobati kesuntukan atau menyalurkan hobby memancing.