Tradisi ini bergantung pada kondisi rumput di Gunung Wakakusa. Dibutuhkan waktu antara 30 menit hingga satu jam untuk membakar seluruh area. Dalam kondisi basah, rumput terbakar perlahan dan hanya di area tertentu. Sedangkan saat kering, kobaran api menutupi semuanya dengan sangat cepat.
Karena api membakar area seluas itu, alhasil cahayanya tampak menerangi langit dan dapat dilihat bermil-mil jauhnya. Ratusan penonton berkumpul di kaki Gunung Wakakusa, sementara ribuan orang lainnya menyaksikan kobaran api dari dalam kota Nara.
Sebuah penghalang khusus dibuat guna mencegah orang mendekati api. Sementaran ratusan petugas pemadam kebakaran, hadir dengan sukarela untuk berjaga-jaga jika terjadi masalah selama festival.
Baca juga: Body Goals Nia Ramadhani di Atas Yacht Mewah, Iri Bilang Bos!
Meski tradisi ini bukan festival paling ramah lingkungan di dunia, tetapi Wakakusa Yamayaki memiliki tempat khusus di hati masyarakat Nara. Mereka mungkin tidak akan melepaskan tradisi yang sudah berusia berabad-abad itu dalam waktu dekat.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.