WADAH plastik memang praktis dibawa sebagai tempat bekal makanan. Namun bagi ibu hamil tidak dianjurkan untuk menggunakan wadah plastik loh.
Untuk menjaga kandungan, Anda harus benar-benar menjaga asupan makanan serta produk penggunaan barang. Termasuk wadah plastik karena ada efek berbahaya yang dialami selama kehamilan hingga kelahiran si kecil.
Ibu hamil pun diperingatkan tentang efek berbahaya dari wadah plastik, serta makanan yang merangsang panas selama kehamilan. Tapi bagaimana ya penjelasannya selengkapnya?
Berikut Okezone rangkum beberapa ancaman terhadap Ibu hamil yang ditimbulkan oleh wadah plastik dan makanan yang memicu panas seperti dilansir Okezone dari Boldsky.
Baca Juga: SK Reisa Broto Asmoro Jadi Jubir Covid-19 Turun, Selamat Ya Dok!
1. Wadah plastik

Sesuai penelitian yang dilakukan oleh Stanford University, temuan yang dipresentasikan pada konferensi tahunan American Society for Reproductive Medicine di Boston, tingkat kontak yang tinggi dengan bahan kimia yang ditemukan dalam berbagai plastik dapat sangat meningkatkan kemungkinan keguguran. Maka dari itu, Ibu hamil sering kali diperingkatkan akan peningkatan risiko keguguran dari makanan yang dipanaskan dalam wadah plastik.
Ancaman telah dikaitkan dengan kehadiran bahan kimia Bisphenol A (BPA) yang bocor dari jenis plastik tertentu yang terkena suhu tinggi.
BPA, salah satu bahan kimia yang paling banyak digunakan saat ini. BPA ini banyak ditemukan dalam berbagai produk konsumen seperti botol air, wadah makanan dan minuman, dan lainnya. Monomer BPA dapat dilepaskan dari produk konsumen seperti itu yang terpapar pada suhu tinggi baik atau kondisi asam dan atau basa.
Berbagai penelitian telah melaporkan berbagai efek BPA pada bayi dan janin. Efek-efek ini termasuk gangguan pada otak dan perilaku. Perilaku seperti kecemasan adalah salah satu efek yang diketahui paling terkenal dari paparan dari BPA pada keturunan.
Efek BPA bisa terjadi ketika paparan itu terbatas pada kehamilan dan menyusui saja. Sementara kelainan perilaku pada bayi dapat diambil untuk mencerminkan perubahan di otak, tingkat dan sifat perkembangan otak bervariasi selama periode kehamilan yang berbeda.
Menurut Pusat Informasi Bioteknologi Nasional (NCBI), sensivitas BPA bisa meningkat pada akhir kehamilan. Sebagaimana pernah dinilai oleh efek perilaku yang diamati pada anak anjing yang terpapar, pada periode prenatal yang berbeda.
2. Makanan pemicu panas
Secara umum, hamil dapat menyebabkan suhu tubuh wanita naik. Kenaikan berat badan selama kehamilan menurunkan rasio massa tubuh terhadap luas permukaan tubuh. Sehingga membuat pembuangan panas lebih sulit pada wanita hamil.
Tuntutan metabolisme janin yang sedang berkembang juga menghasilkan panas dalam tubuh Ibu hamil. Ibu hamil juga banyak yang mengalami dehidrasi, yang dapat memicu kontraksi rahim yang menyebabkan awal persalinan jika didapatkan pada akhir usia kehamilan.
Karena alasan inilah ibu hamil disarankan untuk meminimalkan atau sepenuhnya menghilangkan makanan pemicu panas dari diet Ibu. Umumnya, makanan penginduksi panas, makanan berminyak atau goreng, makanan pedas, pepaya mentah atau setengah matang, nanas dan terong.
Melalui metode farmakologis in vivo dan in vitro yang terkontrol, telah ditemukan bahwa efek kontraktil getah pepaya mentah ditandai oleh kejang. Maka dari itu, penelitian telah mengatakan bahwa meskipun konsumsi normal pepaya matang oleh ibu hamil tidak menimbulkan bahaya, namun pepaya mentah atau setengah matang lebih baik dihindari oleh ibu hamil.
Pentingnya diet yang tepat selama kehamilan sulit dilebih-lebihkan. Untuk ibu hamil, diet harus seimbang dan harus didasarkan pada rekomendasi umum untuk semua orang dewasa yang sehat.
Dalam diet seimbang, makanan nabati dan minuman bebas kalori sementara harus dikonsumsi dalam jumlah banyak. Sedangkan makanan hewani dikonsumsi dalam jumlah sedang. Makanan ringan dan permen, hanya boleh dikonsumsi sedikit.
Kebiasaan makan dan gaya hidup selama kehamilan dan menyusui, mempengaruhi kesehatan ibu dan anak. Konsumsi makanan yang seimbang dan bervariasi sejak periode prakonsepsi sangat penting untuk memastikan kesejahteraan ibu hamil.
1000 hari pertama setelah pembuahan dilihat sebagai jendela sensitif untuk mendefinisikan kesehatan anak, serta risiko penyakit yang tidak menular di kemudian hari. Ibu hamil harus mempunyai gaya hidup sehat dengan dibarengin olahraga dan diet seimbang dapat dianggap sebagai pembangun untuk mencegah segala penyakit.
(Dewi Kurniasari)