dr Lia pun menjelaskan alasan harga rapid test sempat dibanderol sangat tinggi oleh sejumlah rumah sakit di Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari permintaan pasar dan ketersediaan alat rapid test itu sendiri.
"Waktu awal Covid-19 ini datang, kita tidak banyak pilihan untuk diognosa. Sehingga yang menawarkan pemeriksaan sangat terbatas, sementara permintaan begitu banyak. Itulah yang menyebabkan harganya tidak terkontrol," kata Lia.
dr Lia menambahkan, pemeriksaan rapid test sendiri sejatinya terbsgi menjadi beberapa komponen. Pertama terkait reagen. Harga reagen pada awal kemunculan virus corona memang terbilang mahal.
Selain itu, untuk memanfaatkan reagen juga diperlukan jarum suntik. Pasalnya, kebanyakan rapid test menggunakan serum yang sensitivitasnya jauh lebih rendah dibandingkan jarum suntik. Tentu dibutuhkan pula alkohol, kapas, termasuk biaya jasa pelayanannya.
"Jadi buat rumah sakit kalau ada patokan harga reagen yang layak untuk dibeli, justru membuat kami merasa lebih aman. Tapi memang beberapa rumah sakit masih menarifkan harga lama. Karena alasan-alasan tersebut dan mereka sudah terlanjur beli sejak awal Covid-19 melanda," kata Lia.
(Dewi Kurniasari)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.