“Merokok merusak paru-paru Anda dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan risiko mengembangkan komplikasi yang mengancam jiwa dari COVID 19. Perokok juga lebih mungkin membutuhkan perawatan untuk kondisi serius lainnya seperti serangan jantung, stroke, diabetes, kanker, dan emfisema,” tulis ASH.
Selain itu ASH juga mengatakan bahwa beberapa kondisi di atas bisa disebabkan melalui rokok dalam bentuk apa pun. Misalnya shisha, ganja, atau zat lain juga meningkatkan risiko pada manusia.
Pada Maret 2020, Sekretaris Kesehatan Matt Hancock mengatakan bahwa kebiasaan merokok akan semakin memperburuk kondisi pasien apabila terinfeksi. Kepala petugas medis, Chris Whitty sebelumnya mengatakan hal yang sama dan ini menjadi waktu yang tepat untuk berhenti merokok.
Dalam pernyataan, Ketua ASH, Nick Hopkinson mengatakan merokok dapat merusak sistem kekebalan tubuh dan kemampuan seseorang untuk melawan infeksi.
“Semakin banyak bukti bahwa merokok dikaitkan dengan hasil yang lebih buruk pada mereka yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19. Berhenti merokok juga dengan cepat mengurangi risiko orang terhadap masalah kesehatan lain seperti serangan jantung dan stroke,” tuntasnya.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.