Kriteria kedua adalah pasien yang bersangkutan sudah melakukan dua kali berturut-turut tes pemeriksaan spesimen. Tes pemeriksaan spesimen yang dijalani adalah tes pemeriksaan memakai metode real-time metode Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction atau biasa disebut (PCR).
“Selain kondisi klinis pasien yang membaik, secara serial berturut-turut dua kali pasien sudah tes PCR dan hasilnya negatif,” papar Yuri.
PCR sendiri, sesuai dengan penjelasan dari Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan merupakan pemeriksaan dengan menggunakan teknologi amplifikasi asam nukleat virus, untuk mengetahui ada tidaknya virus atau DNA virus, dan untuk mengetahui genotipe virus yang menginfeksi bisa dilakukan sekuensing.
Setelah itu baru dimasukan ke mesin, yang fungsinya untuk memperbanyak RNA agar bisa terbaca oleh spektrofotometer. Barulah hasilnya akan didapat, hasil terbilang positive control dengan gambaran kurva sigmoid. Sedangkan jika hasilnya negatif, maka tidak berbentuk kurva dengan bentuknya mendatar.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.